Kande Tollok: Catatan Harian Ke-Empat (PPL-T IAIN PLP 2018).

“Jika tradisi dan budaya dirusak, maka agama akan menjadi kering, keras, dan kehilangan nilai estetik serta tidak manusiawi. Jika sudah demikian, agama akan semakin jauh dari realitas sosial. Bila demikian, agama hanya bisa diamalkan oleh malaikat”. (Gus Sastrow Al-Ngatawi).



Dalam hal mengupas secara mendalam pertautan atau relasi antara agama dan budaya, selaku penulis saya belum memadai secara kompetensi. Namun begitu tertarik untuk mencoba membahas sedikit tentang praktik budaya dan kearifan lokal serta keagamaan yang secara langsung sempat saya beserta sahabat-sahabat posko 2 saksikan di hari keempat keberadaan kami di desa Lissaga.

Sekitar pukul 08.00 WITA, kami—melalui Nenek Lia (tuan Rumah Posko) diberitahukan untuk—mengisi acara Tauziah untuk penduduk setempat yang telah berpulang ke Rahmatullah di Desa Kanna, sebuah desa yang penduduknya sangat ramah, desa yang bertetanggaan langsung dengan desa Lissaga.

(Baca juga: Basse Sangtempe: Selayang Pandang Sejarah, dalam Perspektif Wija To Ugi).

Pada hari itu juga, bertepatan dengan adanya rapat di Kantor Kecamatan Basse Sangtempe (BASTEM), yang juga sempat kami hadiri karena pada malam harinya, kami diundang untuk menghadiri, pembahasan tentang bagaimana pengelolaan potensi pariwisata di desa-desa yang memang termasuk dalam rancangan proyek pemerintah setempat untuk dieksplorasi atau diolah untuk kepentingan bersama.

Rapat inipun turut dihadiri oleh salah satu anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sulawesi-Selatan. Rapat berlangsung cukup tertib dan cukp singkat, mengingat acara Tauziah untuk warga desa Kanna yang terjadwal dimulai pada pukul 11.00 WITA. Selepas itu, para peserta rapat bergegas menuju ke lokasi secara bersama-sama.

Baca juga: Sebuah Lagu Daerah Untuk Pendidikan dan Budaya Kita).

Untuk pertamakalinya, kami merasakan nuansa kebersamaan masyarakat yang kemungkinan turut serta dihadiri oleh hampir seluruh masyarakat se-kecamatan BASTEM. Mereka berbondong-bondong datang pada acara Tauziah dan penguburan sanak keluarga mereka yang telah wafat pada malam harinya. Sebuah indikasi bahwa Ikatan sosial masyarakat masih sangat kuat dan membudaya. sangat kontras dengan apa yang biasa kita saksikan di kota-kota.

Baca juga: PBNU Sudah Syar’i, Lalu Mengapa Harus NKRI Bersyariah?).

Hal yang semacam ini menurut hemat penulis perlu untuk tetap dilestarikan. Patut untuk menjadi bahan refleksi bagi masyarakat perkotaan untuk tetap menjalin hubungan silaturrahim sebagaimana yang tetap terealisasikan di Basse Sangtempe ini.

Perjumpaan pertama kami dengan tokoh pemangku adat atau biasa diistilahkan oleh penduduk setempat sebagai “Parengngek” untuk pertamakali terjadi pada saat itu. Beliau secara bergantian dengan tokoh agama yang dalam hal ini adalah Kepala Urusan Agama beserta tokoh masyarakat yang lain menyampaikan wejangan-wejangan kepada seluruh masyarakat yang hadir.



Sungguh kagum, itulah yang penulis rasakan akan hal ini. Bagaimana masyarakat tetap mampu menjalin relasi sosial bersama. Padahal dibeberapa daerah terjadi prahara antara agama dan budaya, namun tidak demikian dengan apa yang kami saksikan pada waktu itu.

Baca juga: AGORA:Sebuah Refleksi Untuk Indonesia Masa Kini).

Namun hal yang sedikit perlu untuk kita renungkan bersama, bahwa si mayyit yang “kelamaan menunggu” untuk dimakamkan, itu kurang baik pada persepsi keagamaan. Begitulah yang sempat terjadi kala itu. Hal itu menurut pengakuan salah seorang keluarga si mayyit masih menunggu datangnya sanak keluarga yang lain sehingga prosesi penguburan di-pending hingga sore hari kala itu. Hal yang demikian juga kerap kita jumpai di daerah lainnya. Budaya yang seperti ini perlu untuk kita renungkan kembali bersama. Renungkan sisi positif untuk dilestarikan, dan ganti sisi negatif bila itu diperlukan.

(Baca juga: Moderasi Berpikir dan Fenomena Syariatisasi).

Selepas wejangan-wejangan oleh beberapa tokoh masyarakat dan tokoh agama serta yang lainnya, bersama masyarakat yang hadir, kami disuguhkan dengan makanan lokal yang terbilang cukup istimewa. “Kande Tollok“, itulah yang masyarakat sebut. Daging kerbau yang diracik dengan bumbu seadanya kami santap bersama dengan agak lahap. Walau, ada juga beberapa sahabat posko yang barangkali tak berselera, atau mungkin pertimbangan lainnya.

Selepas santap hidangan, saya beserta sahabat-sahabat posko lain yang sempat “ambil panggung” pada acara waktu itu mohon pamit duluan, mengingat ada rangkaian agenda lain, dalam hal ini program kerja posko (PKP) yang perlu untuk kami laksanakan, salah satunya Pembinaan anak-anak TPA.



Sebagaimana pada dua hari sebelumnya, pada sore hari atau tepatnya selepas shalat ashar berjamaah di Masjid, kami pun laksanakan Pembinaan TPA untuk ngaji bersama di Masjid. Dengan perlahan, shalat berjamaah yang sebelumnya hanya dihadiri oleh dua atau tiga orang sahaja, bertambah dengan hadirnya adek-adek TPA yang begitu bersemangat untuk mengaji dan belajar bersama hingga masuk waktu shalat maghrib.

(Baca juga: HUT RI 74=Merdeka 100% (Dari Simbol) Bisakah?).

Biasanya selepas shalat maghrib, sebahagian dari mereka ada yang pulang. Utamanya mereka yang masih 11 tahun kebawah atau mereka yang rumahnya terbilang jauh dari masjid. Bagi yang masih tinggal menunggu waktu shalat isya’ berjamaah, acapkali kita bincang-bincang biasa dengan adek-adek TPA, remaja-remaja, dan orang-orang tua kami disana; atau jika memungkinkan kita lanjut untuk ngaji dengan adek-adek tadi.

Selepas shalat isya’, kami kembali ke Posko, pun dengan mereka. Sesampai kami di Posko, sebelum lanjut untuk briefing kami MABAR (makan bareng) dulu. Hal yang sebagaimana hari-hari sebelumnya juga kami lakukan sebelum menuju tempat istirahat atau pembaringan masing-masing.


Credit: Idrisefendy.
Basse Sangtempe-Nov 25, 2018.
PPL TERINTEGRASI IAIN PALOPO 2018.


Credit Ilustrasi: Foto Kegiatan PPL TERINTEGRASI IAIN Palopo 2018, Desa Lissaga-Basse Sangtempe.


Re-share: My Other Blog https://posko2bassesangtempe.blogspot.com/


Ebook: Catatan Sang Pilar Project || click: My Ebook


My Other:

Orwell, Satire, dan Endonesa.


The World is Flat?


Intellectual Organic: Aku Bukan Ini dan Aku Bukan Itu.


Abdi Bestari, Kini…

Iklan

Hedonku, Hedonmu, Hedon Kita.

“Hidup yang tak direnungi, adalah hidup yang tak layak dijalani. (Hidup tak teruji, tak layak dijalani)”.
Socrates (469-399 SM).

“The more you take, the less you have”.
Master Oogway (Kung Fu Panda, Movie).


Rasa-rasanya, kutipan pertama di atas tak asing lagi. Terang saja, merupakan kredo Socrates. Sang Filsuf yang—begitu masyhur—menuntun pada kebajikan; tentu dengan jalan falsafatinya. Namun toh, ada jua “oknum” numpang masyhur “menungganginya”. Maksudnya, lumrah diketemui pengutip; namun, tak terakan sumber terkutip. Tebarkan ajaran kebajikan—mungkin, bila niatnya memang demikian—namun tak cukup “bajik” pada sisi lain. Ironis.

Yang terakhir disebut, barangkali tendensif bila bukan prematur. Mengapa demikian? Sebagaimana petuah mbah Pram: adillah sejak alam pikir, apalagi dalam perbuatan. Dari situ,—dalam hemat penulis—kita ditantang adil sikapi “segala” hal. Praduga tak patut “tikam” adil. Itu mungkin saja justifikasi prematur. Dalam kasus yang dibicarakan, ada kemungkinan pelaku belum mafhum, akan yang dikutipi. Juga, masih ada banyak “kemungkinan” lain. Mari sentiasa buka lapangan diskursif, sebagaimana spirit Socrates.

(Baca juga: AGORA: Sebuah Refleksi Untuk Indonesia Masa Kini).

Kutipan Socrates tadi, ialah penggalan pleidoi kala ia bersemuka pengadilan. Ia dituduh racuni otak para remaja Athena, dengan ajarannya. Dengan itu—Socrates yang terjerat delik—ia gugur muda (37 tahun) dengan teguk racun di gelas piala. Piala yang dipaksa-hadiahkan pengadilan untuknya. Sungguh filsuf yang malang. Namun dari situ—”The Art of Principle” yang dirangkum Plato pada “Apologia“-nya—membrojolkan konsepsi “bijak”, bagi para murid dan penerus Socrates yang tak sedikit.

Aristoppus (433-355 SM) dan Epikuros (341-270 SM), merupakan filsuf dari rahim Athena. Mereka termasuk Socratesian berhaluan Antroposentristik. Jamak dipahami: antroposentris berkutat pada manusia dan kemanusiaan. Kedua filsuf generasi baru ini, juga “bedah” manusia dan praharanya; selaiknya Socrates. Walaupun, penulis belum tahu pasti; apakah keduanya berguru langsung padanya, atau tidak? Namun rentang tahun, nampak sempilkan sepotong informasi. Entahlah.

Sebagai “isme” pijaran antroposentrisme, hedonisme tak ingkar titik pijaknya. Ringkasnya, hedonisme ingin jawab soal: apa yang baik—atau dalam tanya Socrates—apa tujuan terakhir manusia? Jawab mereka: “kesenangan” yang terbaik bagi manusia. Itulah Hedonisme yang berakar kata ἡδονή hēdonē (Yunani); artinya, kesenangan. Jadi, hedonisme: paham bermuara kesenangan. Perlu penulis tekankan sekali lagi, sungguh tidak sesederhana itu. Juga tak njlimet amat; membingungkan, bukan?

(Baca juga: HUT RI-74 = Merdeka 100% (Dari Simbol), Bisakah?).

Terlepas dari itu—dalam ringkasan ini—akan sedikit urai corak pemikiran Aristoppus dan Epikuros. Filsafat mereka—secara garis besar—bercorak Hedonistik. Hedonisme sendiri—sebagaimana uraian sebelumnya—ramai dipahami: paham yang berpangkal “kesenangan“, “foya-foya“, “hura-hura“, dan sejuntrungannya. Namun, benarkah demikian? Sesederhana itukah makna dan pemaknaannya? Tidakkah ini perwujudan peyorasi dalam arti sedalam-dalamnya? Mari kita tilik seksama.


Baik Aristoppus atau Epikuros, sejatinya penganut Hedonisme. Namun tetap ada beda, tentunya. Barangkali faktor lingkungan? Bukankah beda ladang beda belalang. Diketahui, Aristoppus asli Cyrene (Afrika Utara), kemudian rantau ke kota Athena. Ia tinggal beberapa waktu, lalu mudik dan dirikan “sekolah”. Tentu terdidik iklim “rantau”, sumbang pola tersendiri baginya. Adapun Epikuros, ia asli Samos (Athena). Ia tak semelanglang buana Aristoppus. Namun, tentu “cetak biru” pemikirannya sebagai filsuf, terasah di kotanya; kota filsuf. Sekali lagi, ini hanya salahsatu faktor ‘beda’ pemikiran mereka; walau tetap sealiran, Hedonisme.


Aristoppus: Rasio dan Kendali ‘Kesenangan’

Pada laman Wikipedia, dijelaskan sbb: Aristippos mendaku bahwa, manusia lahiriahnya selalu cari kesenangan hidup. Bila tak dicapai, manusia akan cari cara lain. Rasio dengan sedemikian cara, harus ditampuk untuk tuai ‘senang‘. Kesenangan—dalam sistem epistemiknya—harus praktis dari segi terapan. “Senang“, lekat dengan Rasio tadi. Olehnya—pendeknya—Kesenangan yang dituju, bukan kesenangan tanpa tapal batas. Bijak memilah, itulah intinya. Bahkan diuraikan, kesenangan yang diraih dengan simbah peluh, layak dikhianati.

Senang‘ dalam Aristoppusian, meliputi sifat Aktual dan Badani. Aktualnya ‘Senang’ itu: di sini dan kini. Tak terikat pada masa lalu, masa depan, dan ruang lain. Menurutnya, masa lalu hanya ingatan akan kesenangan (hal telah lewat), masa depan adalah hal yang belum jelas; apalagi ruang lain. Untuk badani (gerak dalam badan), Ia bagi gerakan jadi tiga kemungkinan:
~Gerak kasar, timbulkan ketidaksenangan seperti rasa sakit
~Gerak halus, yang membuat kesenangan, seperti tentram pikiran.
~Gerak netral, yaitu keadaan nir-gerak; sebagaimana saat tidur.

Sederhananya, Aristoppus berpandangan: dasariahnya, manusia sentiasa cari ‘kesenangan‘. Baik lewat usaha keras, maupun tidak. Baik gerak kasar, halus, ataupun netral. Namun lebih tekankan gerak ke 2, halus; netral, sudah otomatis. ‘Senang’ pun, tak mesti diraih dengan simbah peluh. Apatahlagi dikatakan: ‘senang’ itu ada tapal batas; batasnya, pada pikiran. ‘Seni’ mengendalikan diri inilah, jalan Aristoppus menuju puncak ‘Senang’. Menurutnya, mengendalikan diri, tak lantas meninggalkan ‘senang’. Intinya, penguasaan akan ‘diri’, jalan mencumbu ‘kesenangan’ itu. Tapi, ‘senang’ yang mana dulu? Yaitu, senang aktuil: di sini dan kini.


Epikuros: Kesenangan Ruhaniah.

Sebelumnya, telah dikatakan bahwa: Aristoppus dan Epikuros, sehaluan terkait Hedonisme; bahwa, kesenangan ialah kodrati bagi manusia. Namun beda otak, beda titik pijak; beda ladang, beda belalang; beda masa, beda rasa. Aristoppus memiliki penekanan, bahwa ‘senang’ itu aktual dan badani. Untuk Epikuros, menurutnya—ringkasnya—’senang‘ itu, tak hanya aktual semata, dia juga ruhaniah. Timbul tanya, apa itu cenderung sufistik? Bukankah itu semacam ‘cangkok‘ antara Sufistik dan Filosofis? Entahlah.

(Baca juga: Moderasi Berpikir dan Fenomena Syariatisasi).

Epikuros tekankan soal kenikmatan; wujud serupa, namun lebih high dari kesenangan. Rumusnya: segala yang baik, ialah apa yang datangkan kenikmatan; apa yang buruk, ialah segala yang hasilkan ketidaknikmatan. Namun demikian, bukanlah ‘nikmat’ nihil aturan yang dijunjung Epikuros. Melainkan, kenikmatan yang dipahami secara mendalam. Ia menilai, ‘keinginan’ pemuasan kenikmatan, harus dibatasi. Itu dilakukan, demi menuju ‘nikmat’ yang hakiki; ‘Nikmat’ yang tentram (Ataraxia) dibanjiri kebajikan (Phoronesis).

Epikuros bagi ‘keinginan’ jadi 3. Pertama: keinginan alami yang perlu (spt: makan). Kedua: keinginan alami yang tidak perlu (spt: makanan mewah). Ketiga: keinginan yang sia-sia (spt: ingin kaya raya). Terang saja—menurut Epikuros—keinginan pertama yang harus dipuaskan. Namun—lanjutnya—pemuasannya dibatasi, demi menuju ‘senang‘ yang lebih ‘nikmat‘; hakiki. Olehnya, hidup sederhana disarankan Epikuros. Tujuannya? Itu tadi, menuju Ataraxia; yaitu, ketenteraman jiwa, bebas dari risau, dan seimbang; Plus ruhani.

Poin terakhir diatas lah, titik beda krusial Aristoppus dan Epikuros. Hedonisme a la Epikuros lebih luas. Karena, tak cakup kesenangan badani dan aktual saja—seperti Aristippos—melainkan, rohani juga. Seperti, bebas resah hati; serta adanya keimbangan. Maksudnya, tetap perhatikan aspek kini, kemarin, dan esok. Pada titik inilah—tetiba penulis—teringat pada Master Oogway. Ia salahsatu tokoh tritagonis dalam Kung Fu Panda Movie. Mengapa bisa ingat kesana? Ialah, karena quotes-nya begitu membekas. Ia bilang—sebagaimana kutipan di awal—”The more you take, the less you have”. Artinya: Makin banyak kau ambil, makin sedikit yang kau dapat. Terdengar mirip Epikurean.


Sudah barangtentu, hedonisme tak terbatas pada kedua TOKOH diatas. Masih banyak TOKOH lain yang imani, bahkan kembangkan Hedonisme ini. Sebut saja: Jeremy Betham dan John S. Mill dengan Utilitarianisme-nya, dan juga TOKOH lainnya. Patut pula penulis terakan disini, bahwa: disamping Utilitarianisme tadi, juga ada Frugalisme, Stoisisme, dan sekawanannya. Itu semua, masih erat dengan Hedonisme. Tentu dengan TOKOH, karakter, paradigma, dan sejarahnya sendiri. (klik tulisan biru, untuk baca lebih lanjut).

Bila jeli, akan dapati diksi “tokoh” (dengan hupuf kapital) diatas. Tentu, bukan tanpa maksud. Mereka—tersebut di atas—murni kaji dan jadi hedonis(me). Patut curiga bahwa, barangkali kita—dengan kebetulan, mungkin juga terjebak konspirasi—termasuk “tokoh” hedon. Baik terang-terangan, samar, pun yang bersembunyi dibalik ketiak “alter ego”-nya. Bukankah kesenangan dalam Hedonisme—yang dengan ringkas diurai di atas—itu luas. Masih terlalu sempit, bila kita kurung pada “foya-foya” dan segala tetek bengeknya. Peyorasi, bahkan “kebiri makna”, memang kadang terjadi dalam percaturan “isme”; percaturan paham dan pengaruh.

(Baca juga: Intellectual Organic: Aku Bukan Ini dan Aku Bukan Itu).

Lagi, penulis tekankan lagi: ini bukan pleidoi, dalih, ataupun pembenaran akan “Hedonisme”—dalam konotasi negatif, tentunya. Hedonisme, patut ditelanjangi lebih dalam. Tentu ada sisi baik, bahkan sangat baik. Bayangkan sekiranya para tuan tanah dan elit oligarki; tiba-tiba terilhami Hedonisme a la Epikuros. Barangtentu “tanah”, tetap terjaga kesuciannya; tetap lestari. Akan jauh dari ke(pem)bakaran lahan, tambang liar, proyek “sawitisasi”, dan semacamnya. Sungguh hedonisme adalah layak, bahkan sangat baik sebagai etika. Nah, kadung bicara tentang layak-tidak layak, maka dimana kekira posisi tidak layaknya hedonisme?

Hedonisme era modern, agaknya layak dikatakan tak bijak lagi. “Tokoh”-nya, kini tergelincir pada makna lumayan berbeda. Lihat saja, gaya hidup hura-hura, bebas (aturan, tujuan hidup, dll), “kafe-kafe”-an nihil literasi, pesta pora dan pore (bahasa Palopo), dll. Kesemua berhulu pemenuhan hasrat dangkal—setidaknya, itu dalam hemat penulis—jauhi spirit yang diemban para TOKOH-nya tadi. Barangkali niatnya: raison d’etre (ke-ingin-an menjadi) Epikuros pada tujuan akhirnya—yaitu tentram lahir bathin—namun diproyeksi a la Aristoppus pada aspek pemenuhannya—yaitu kini, di sini, dan badani. Atau—lagi-lagi—kemungkinan lainnya? Entah.

Terlepas dari itu, hedonisme nampaknya perlu diuji ulang. Perlu dibenturkan dan kontekstualisasi. Bukankah tiada gading tanpa retak; tiada “isme” tanpa celah. “Kesenangan” sebagai elan vitae Hedonisme, perlu disorot. Memangkah hakikat manusia ‘senang’ semata? Otomatiskah—Dengan “kacamata” hitam putih— bila tak capai ‘senang’, telah gagal kemanusiaannya?

Jika “kesenangan” adalah baik; lalu, adakah jaminan, segala yang baik menyenangkan dan ‘senang’ itu selalu baik? Bukankah—misalkan—ketika ‘kita’ beragumen, disitu ada peluang hedone menyusup qalbu? Baikkah itu? Bila memang main “serampangan” memosisikan hedone itu, memanglah manusia sukar lepas dari jerat hedonisme ini sendiri.

Bukankah dalam hidup, kita harus sentiasa diliputi Cinta dan benci; senang dan duka. Bila telah pada tahap kita pahami, maka cinta itu kita kelola untuk gapai CINTA yang menuntun pada kesenangan, kesuksesan, dan kebijaksanaan. Setidaknya, itu menurut Pythagoras. Adapun yang lebih diutamakan Pythagoras, adalah yang terakhir: Cinta kebijaksanaan.

(Baca juga: Orwell, Satire, dan Endonesa.).

Pada akhirnya, penulis ingin tutup tulisan ringkas yang tiada “berjawaban” ini dengan—lagi-lagi—kutipan dari Pramoedya Ananta Toer. Mbah Pram dalam novel ‘Anak Semua Bangsa’-nya bilang: “Kehidupan ini seimbang, Tuan. Barangsiapa hanya memandang pada keceriaannya saja, dia orang gila. Barangsiapa memandang pada penderitaannya saja, dia sakit”.


Walloohul muwaafiq ilaa aqwaamith thoriq…

Credit: Idrisefendy.
Palopo-Sept 21, 2019.


Referensi:
~ Wikipedia – Hedonisme
~ Wikipedia – Aristoppus
~ Wikipedia – Epikuros
~ Zainabzilullah.wordpress – APOLOGIA: Pidato Pembelaan Socrates yang Meneguk Racun Kebenaran.

Abdi Bestari, Kini…

Guruh kabar tumpah membadai

Riuh rendah jejali selembar gawai

Mempreteli sendu beranda sanubari

Menyibak opera berpilin hipokrisi

Sejumput tanya asyik lambai

Ayal, gemingku tuntut segala arti

Pangkal apa hendak ingin dituai?

Halal haram bukankah soal lagi?

Betapa bayang moral terkhianati

Cerabut tandas pesan sang Suci

Haruskah hasrat tak akrab cuti?

Bilakah puas kantong, akan terhenti?

Goblok, tikus bertakdir menggerogoti

Tebuk sana-sini, lupa batas sepi

Kadung berpinak hendak invasi

Kemplang kala berkelepak duli

Gasak rata, memberondong damai

Sungguh parade zaman nir-nilai

Apa kabar ksatria, sang suluh negeri?

Lekangkah kini tergelitik abai?

Sihir apa jeratmu berciut diri?

Oh, kucing belia kini meraung sempalai

Nafas sengal tersebab lunglai

Tubuh melemas diremas sengkuni

Syak, cakarnya luka terbuai kebiri

Aum sumbang bernada abolisi

Senjakalamu kian mengadipati

Kau tahu khalayak tak lekang empati

Terharap takhtamu tetap mewangi

Tetaplah simbah peluh beri abdi

Untuk tegaknya supremasi konstitusi

lestarilah, wahai pejuang bestari.


Idrisefendy

Ruang Kontemplasi-September 17, 2019.

Orwell, Satire, dan Endonesa.

“…Para binatang yang berada di luar dan mengintai dari jendela tercenung. Mereka meneliti seksama wajah-wajah yang berada di dalam gedung: dari wajah manusia, kemudian ke wajah babi, kemudian ke wajah manusia lagi, lalu beralih lagi ke babi. Kini rasanya sudah mustahil membedakan mana yang manusia dan mana yang babi! Babi dan manusia sama saja.” (Binatangisme hlmn: 167).

Penggalan kalimat yang tergeletak di atas, tak lain merupakan seserpih-ujung buah tangan Mahbub. Diksi ciamik, begitu khas pada diri sang pendekar pena: Mahbub Djunaidi. Binatangisme—sebuah novel satire alegorik (baca: penokohan, mis: binatang). Ditransliterasi (baca: alih bahasa) oleh bung Mahbub—dalam hal “cetak birunya”, merupakan karya Orwell dengan judul Animal Farm (selanjutnya: AF). George Orwell selaku empunya sendiri, wafat 33 tahun sebelum bung Mahbub meng-“Indonesia“-kan satire alegoriknya tadi pada 1983 (terbitan PT. IQRO’, Bandung).

Impresi pertama semasa pertamakali menyecap Binatangisme a la Mahbub, adalah—dalam subyektifitas penulis—kernyitan dahi. Bagaimana tidak, diksi aneh namun memikat berseliweran dalamnya. Seuntuk contoh: “Bibirnya mencong…”, “…sayap berkeciap…”, “Pantat menyolok…”, dll sejluntrungannya. Sungguh asing bagi pembaca level noob semisal penulis; barangtentu, warga milenialisti tak kurang sama nasib. Bukan hendak hati pukul rata. Tak lain, itu imbas zaman yang memang “menternak” mental instan. Mentalitas yang kering nuansa sastra (baca: Literasi).

Terlepas hiruk pikuk soalan itu, bung Mahbub memang memukau. Baik dalam hal Binatangisme (a.k.a. AF) tadi, maupun karya orisinil rakitan penanya. Gaya khas dan keugahariannya, sungguh rumit berpindah pena. Teruntuk Binatangisme sendiri—dalam sesari beberapa pihak—telah “berpindah punya” ke Mahbub. Maksudnya, AF tetap milik Orwell; namun Binatangisme, kini “dibajak” dan “dimiliki” Mahbub Djunaidi. Bagaimana hal? Dalam lanjutan salahsatunya—lupa namanya—menurutnya: matahari memang terik silaunya, namun pantulannya pun tak kalah silau.

(Baca juga: Intellectual Organic: Aku Bukan Ini dan Aku Bukan Itu.

Ya, barangkali itu adalah salahsatu pandangan dalam sudutnya; tentu ada sudut lain dalam porosnya. Sungguh dunia bukanlah negeri layak bagi “pandangan” yang semata wayang. Dalam hal ini, penulis nampaknya perlu tekankan bahwa: tak payah tanyakan komparasi dua tokoh sastra haibat tadi pada penulis. Bahkan— jangankan membaca AF versi asli, bersenggama dengan bahasa inggris—bahasa AF-nya Orwell—pun juga rabun. Masih untung, bung Mahbub mengenalkan pada Orwell dengan pengisahan ciamiknya.

G. Orwell—bernama benar Eric Arthur Blair—sastrawan kelahiran India pada 1903. Ia—berangkat dari celoteh Wikipedia—sungguh sederhana. Hidup bertabur rasa, terbentuk dengan terbentur dan terbentur. Namun, ia bertahan dengan sikap tak berpengecut. Karir intelektualitas mentereng semenjak belia, plus akses membaca dunia—walau terkendala privilege logistik—dan terus melanglang buana, hingga lahirlah sastrawan satiris anyar kala itu. AF dan 1984, buah tangan yang buatnya memanen buah dunia. Namun, umur siapa bisa tebak. Orwell berpulang pada 1950 di Swiss dalam upaya sembuh dari sakitnya. Kala itu, Orwell genap berumur 46 tahun saat ajal menyapa.

(Baca juga:PBNU Sudah Syar’i, Lalu Mengapa Harus NKRI Bersyariah?)

Usia penulis, rerata kisaran 30-90 tahun saja. Atau mungkin ada data detil nan komprehensif (?). Tetapi poin bukan tertuju disitu. Maksudnya, usia penulis itu seterserah takdir. Namun tulisannya adalah boleh jadi lain adanya. 100, 300, hingga 1000 tahun; tulisan bisa seumur dunia. Kecuali—lagi-lagi—bila takdir berujar lain. Bak pemisalan: duka Hypatia saat karya-karyanya (baik tulisan, pun temuan lain) terberangus oleh para “bedebah” se-zamannya; pun pada karya para ‘Ulama dan Cendikiawan masa Al-Mu’tashim—khalifah terakhir dinasti Abbasyiah—yang dijarah Hulaghu Khan dkk. Karya-karya bermerk ‘1001 Malam’ tersebut, diberangus ludes dan “membirukan” sungai Tigritz dengan tinta. Betapa malang.

Sungguhpun demikian, tak sedikit tulisan—artefak sejarah tak jemu pada ‘rayap’ usia—yang lolos seleksi berangusan masa. AF adalah contoh riilnya, ia berhasil finish di kacamata pembaca hingga kini; bahkan esok. Selama mata pembaca masih sudi menjamahnya. Tulisan (baca: sastra) sebagai artefak, barangtentu ada DNA ‘kisah’ yang terkandung padanya. Ia takkan lahir dari sesuatu yang nihil dan nirfakta. Bukankah tugas sastrawan ialah merekam pentas zamannya, lalu paradekan via tinta, kertas, dan sejumput imajinasi. AF milik Orwell, tentu sarat akan kekisah. Lalu, kisah apa gerangan?

(Credit Ilustrasi: Sampul Binatangisme).

Pada lembar-lembar akhir (hlm: 168-176) Binatangisme, Mahbub jabarkan terang ihwal George Orwell. Pendeknya—menurutnya, Orwell yang mantan sersan dan juga wartawan, anti akan hipokritas muluk dan kelancungan yang diperagakan sepenjuru Eropa kala itu. Bahkan lantang—mengutip Mahbub (hlm: 174)—Orwell bilang: “Aku tahu persis banyaknya berita tentang pertempuran-pertempuran besar, padahal sebenarnya tidak ada pertempuran macam itu. Sebaliknya, aku tahu persis betapa banyaknya pembantaian dan pembunuhan, penangkapan dan pemerkosaan martabat manusia, tapi sedikit pun tidak pernah diberitakan“.

(Baca juga: Moderasi Berpikir dan Fenomena Syariatisasi.)

Betapa Orwell adalah anak zaman yang gemilang. Memainkan sastra kehidupan dalam keugaharian. Melawan kediktatoran dan totalitarianisme dengan satire intelektuil, sungguh sedap dan bernas. Karakter yang dilakonkan Orwell dalam AF, begitu hidup. Bila tak salah comot—diterakan pada laman Wikipedia—bahwa hidupnya karakter tadi, memang karena berangkat dari tokoh faktuil yang difiktisasi Orwell. Atau sederhananya, tokoh-tokoh binatang fiktif dalam AF, adalah pengisahan kebinatangan manusia zaman Orwell. Adalah kehidupan Eropa dan sekitarnya, latar AF ini.

Dilansir dari Wikipedia, berikut penafsiran para tokoh/karakter yang dipakai Orwell: Babi Major—babi putih rentah—diperkirakan sebagai perwakilan Karl Marx atau Lenin. Babi Napoleon=Joseph Stalin atau N. Bonaparte. Babi Snowball=Lev Trotsky. Kuda Boxer, Mollie, dan Clover=rakyat (proletar) pelbagai level. Domba=rakyat penurut. Tuan Jones=Tsar Nicolas II. Tuan Frederick=Adolf Hitler. Para anjing piaraan Napoleon=polisi dan lembaga lain sekedoknya. Squaler=penjilat. dan karakter lainnya. Namun, pada laman itu juga, dimuat dan dibukakan kran yang tetap diskursif-dinamis. Bahwa penafsiran lain akan para tokoh, tempat, dan kejadian lain, adalah sah-sah saja. Termasuk menembakkannya ke “Indonesia”.

Lalu, dimana letak semua—”…kebrengsekan, tipu daya, kelicikan, keserakahan, munafik dalam makna yang paling sejati“—yang dipaparkan Mahbub pada halaman 175 Binatangisme? Simak saja secara perlahan lembar-perlembar AF (a.k.a Binatangisme). Duduk perkara akan tersibak terang sendiri. Barangtentu, riuh-rendah pergumulan zaman yang penuh hipokrisi, mampu tenggelamkan pada kebengisan sedalam-dalamnya. Itu bisa terjadi, bila jeli membaca alegori dan satire sadis Orwell. Dengan bahasa lebih datar—manusia dan babi adalah sama saja belangnya.

(Baca juga: HUT RI-74: Merdeka 100% dari Simbol, Bisakah?)

Secara ringkas, berikut resensi dalam arti seringkas-ringkasnya: Berangkat dari “cita”—yang katanya—luhur, para binatang mampu mengusir binatang berkaki dua dan tak bersayap: manusia. Sorak-sorai dan lagu Kebangsaan Binatang, didendangkan riuh; tak lupa, bendera bersimbol cakar dan tapak kaki, berkibar. Para dewan babi, tak lekang akal; Tujuh Pedoman Utama (baca: Konstitusi) sebagai asas ‘kebinatangan’ warisan babi Major, pun tak lupa ditulis besar-besar pada bilahan papan. pesta sorai kemerdekaan binatang menggema. Tak tahu pasal, mereka akan tenggelam jua pada ketidakmerdekaan sepersisnya. Tepatnya, lepas dari mulut srigala, masuk ke mulut buaya. Lepas dari manusia, ke tangan para babi.

(Credit ilustrasi: Binatangisme hlmn: 30)

Awal mulanya, para binatang dengan kemerdekaan semunya, tetap berkehidupan selayak-oroknya. Namun hasrat kuasa para babi menjijikkan, mempreteli perlahan warga peternakan “Binatang” ini. Dari yang secara fisik (susu, pakan, telur, dll) hingga psikis pun terjajah dan dialami warga “binatang”. Pelakunya? Siapa lagi kalau bukan para babi. Bahkan dengan enteng dan licik, para babi mempermak satu persatu Tujuh Pedoman Utama, yang menjadi asas konstitusi bersama mereka. Bila ada yang mengepak-lawan, para anjing jagal ternakan babi, akan menerkam nadi juangnya. Sungguh lancung dan tidak “berprikebinatangan”.

Lalu, gerangan apa menyerempet “Indonesia” (lihat: paragraf 11) pada ketidak-berprikebinatangan ini? Mirip kebun “Binatang” kah Indonesia itu? Atau, Binatang jenis apa penghuninya? Berkaki dua, empat, atau bersayap, dan atau penghisapkah mereka? Lalu siapa yang “Manusia” lancung (Tuan Jones dan Frederick) bila demikian? Sungguh pertanyaan demi pertanyaan yang kian binal dan banal. Bila tak hendak tunjuk hidung, mari membawanya pada ruang renung. Tontonlah jelas, pentas “Binatang” dalam parade sejarah dan masa kini Indonesia.

Yang terakhir disebutkan, barangkali akan meninabobokan dalam praduga nir-akar. Namun sekali lagi, geming di beranda renung itu, jangan ‘kita’ murtad atau kafir darinya. Bahkan, murtad dari soalan Indonesia adalah, tak usah diniatkan. Menganggap tiada soalan saja, barangkali akan terjerembab pada ‘kafir’ terselubung atau Zindik dari ke-Indonesia-an. Lihat saja ‘Kasus’ aktuil yang kian hangat: Revisi UU KPK. Lembaga yang menjaga “binatang” untuk tak semena-mena menjarah “binatang” lain. Betapa itu sebelas duabelas dengan “Binatangisme” (lihat hlmn: 78-80, 105, 106, 109, 125, dll). Karut marut kebun binatang, kian temui kembarnya.

(Baca juga: AGORA: Sebuah Refleksi Untuk Indonesia Masa Kini.)

Dalam pergumulan berlumpur ini, mewujud ‘binatang’ apakah kita? Babi yang licikkah? Atau, rakyat Kuda yang berleha-leha? Boleh jadi, Anjing penyalak? Atau Benyamin, si Keledai yang acuh tak acuh; ayam atau bebekkah, yang rela moncong pantatnya diraba telurnya? Atau Moses si gagak, yang mengawang-awang akan sistem dan alam lain yang, boleh jadi tak beda ganjil? atau binatang jenis lain? Ataukah memang adalah manusia, yang terang segelap arang tak berprikebinatangan? Sungguh kebinatangan ‘kita’ begitu diuji kini. Bangunlah hai binatang. Bangunlah hai Manusia.


Walloohul muwaafiq ilaa aqwaamith thoriq…

Credit: Idrisefendy

Palopo-Sept 18, 2019.


Referensi:

~ (Ebook) Binatangisme, Mahbub Djunaidi-Iqro’ Bandung, 1984. (Download Ebook, klik: Binatangisme.)

~ Wikipedia-Animal Farm

~ Wikipedia-George Orwell.


Intellectual Organic: Aku Bukan Ini dan Aku Bukan Itu.

Terus terang, aku tak tahu persis hendak berangkat dari mana mengurai segerombolan pikiran yang menggerayangi beranda pikirku kini. Pun tak tahu pasti, harus ku mulai dari mana menggoreskan pena ini bermula. Satu hal yang ku tahu (baca: pikir) pasti: aku ingin pikiran yang menyapa tadi, tak sekadar ‘singgah’ mempreteli ‘damai’ ku. Kemudian, sekonyong-konyong, ‘pamit’ tandas tak bersisa. Lalu, dengan semua itu–ia, atau mereka–hanya sepintas lalu. Menghembus tanpa menyejukkan, bukan?

Ia, atau mereka ingin kuabadikan. Atau bila dituntut penegasan, akan kukatakan: “mereka harus abadi”. Bukankah mbah Pram–dalam tetralogi buruhnya yang masyhur itu–pernah bilang: “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian”. Demikian kekira saya kutip dari brosur suatu Kelas Penulisan. Sebuah kegiatan untuk menjawab tantangan (senjakala?) literasi kini; wabil khusus, kota Palopo.

(Baca juga: Basse Sangtempe: Seuntai Sejarah dalam Perspektif Wija To Ogi).

Kegiatan yang dimaksudkan, diinisiasi para sahabat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) cabang kota Palopo, beserta para pegiat literasi lainnya. Adapun keynote speaker, adalah sahabat senior pergerakan asal Yogyakarta. Beliau seorang dosen yang begitu enjoy berbincang-bincang tentang objek kita kala itu; tentang kepenulisan. Beliau sendiri bernama Dr. Ngainun Naim. Dalam hal selanjutnya, kegiatan ini turut dihadiri oleh teman-teman dari kampus Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Kota Palopo; serta beberapa sahabat pergerakan dari kampus lainnya, se-kota Palopo.

Berangkat dari kutipan sang maestro pena diatas, sungguh penulis sepenuhnya sadar bahwa, ini bukanlah suatu bentuk pengafirmasian terselubung. Apalagi sebagai suatu ‘pendeklarasian’ diri, sebagai–sosok ‘pandai setinggi langit’; atau apapun itu–sebagaimana dalam kutipan mbah Pram diatas. Melainkan, ini hanya proses penumpahan uneguneg pribadi. Tak lebih. Ngomong-ngomong tentang “pendeklarasian diri”, juga ingin ku kutip suatu deklarasi diri dari sosok intelektual muda dalam catatan hariannya. Ia adalah Ahmad Wahib. Berikut kutipannya:

“Aku bukan Hatta, bukan Soekarno, bukan Syahrir, bukan Natsir, bukan Marx, dan bukan pula yang lain-lain. Bahkan aku bukanlah Wahib. Aku adalah me-Wahib. Aku mencari dan terus-menerus mencari, menuju dan menjadi Wahib. Ya, aku bukanlah aku. Aku adalah meng-aku, yang terus berproses menjadi aku. Aku adalah aku, pada saat sakaratul maut!” Serta pada lembaran lain: “Aku bukan nasionalis, bukan katolik, bukan sosialis, bukan Budha, bukan Protestan, bukan Westernis. Aku bukan komunis. Aku bukan humanis. Aku adalah semuanya. Mudah-mudahan inilah yang disebut Islam…”

Sungguh–menurut hemat penulis ialah–suatu rangkaian kalimat dalam perwujudan bombardemen akan berbagai ‘lumrah’ bahkan ‘pakem’, yang berkeliaran–tidak begitu sulit dijangkau pengamatan indra–di sekitaran kita kini. Dimana hipokrisi atau kepalsuan, begitu berseliweran tanpa kenal batas ruang dan waktu. Juga, para ‘tengkulak karakter’ yang dengan begitu mudah mengklaim dan mengafiliasikan diri, sebagai semau-seenak jidatnya; si Anu bisa mengaku menjadi si Fulanis, atau si Fulan mengaku sebagai si Anuis.

Meskipun demikian, tak bisa pula dinafikkan penisbatan diri sebagai penganut paham tertentu. Bahkan–misalkan–pendalaman akan pemikiran tokoh tertentu; sebagai acuan spirit darinya atau mewarisi elan vitae dari yang diidolai. Itu sah-sah saja. Dalam hemat penulis–terkait penginterpretasian–apa yang dikatakan Ahmad Wahib; adalah, adanya kekhawatiran akan pendangkalan, terkait paham yang telah diklaim oknum tertentu. Namun, entahlah (?). Kata Roland Barthes: penulis telah mati (The Death of the Author). Orang-orang, atau siapapun berhak menginterpretasi apapun yang dikatakan dan dilakukan oleh siapapun. Tentu berangkat dari titik pijak serta motif tertentu. Termasuk apa-apa yang dikatakan Wahib.

(Baca juga: Moderasi Berpikir dan Fenomena Syariatisasi).

Dalam tulisan ini sendiri, penulis ingin mencoba membahas beberapa pemikiran Ahmad Wahib, sebagai salah seorang intelektal organik; bersampingan dengan sosok Soe Hok Gie. Tentuya, pemikiran-pemikiran yang barangkali dapat mengisi ruang relevansi masa kini. Mereka adalah para intelektuil yang–dalam masanya–berkutat dengan dunia pemikiran dan pena. Mereka termasuk intelektual yang meninggal, dalam usia yang masih terhitung belia. Atau meminjam istilah Nugroho Notosusanto, dalam pengantar buku Soe Hok Gie: Catatan Seorang Demonstran, mengatakan bahwa: mereka adalah Intellectual Abortus.

Dalam pada ini, penulis sadar betul; bahwa, barangkali akan ada ragam tanggapan terkait tulisan ini nantinya. Mudah-mudahan. Salah satu yang barangkali akan menohok, adalah cemoohan akan ‘ke(pen)dangkalan’ isinya. Namun–meminjam istilah teman-teman STIKES, dalam bahasa ‘kesehatan’ mereka–harus ku utarakan bahwa: “ini mungkin memang adalah sesuatu yang prematur; namun keraguan itu, harus ku aborsi. Akan ku biarkan janin ‘pemikiran’ itu tumbuh dengan prosesnya sendiri”. Tanpa perlu bertedeng aling-aling lagi, berikut adalah beberapa mozaik pemikiran para tokoh kita kali ini, terkait dunia intelektualitas mahasiswa dan pergulatannya. Sekali lagi, tentu ini dalam (keter)batasan pemikiran penulis pribadi.

Wahib: dinamit pemikiran ‘meledak’ dini.

Mencecapi buku catatan harian Ahmad Wahib (1942-1973)–terbitan LP3ES (2003)–dalam format digital (Ebook), sugguhlah merepotkan. Tak lain karena, berkutat dengan cahaya biru gawai android, sungguh memekakkan mata. Apatahlagi, subtitusi atau pemilihan kosa kata Wahib yang begitu khas; tak jarang memaksa untuk terus-menerus buka lembaran KBBI dan translator; dan banyak yang harus dibaca ulang untuk selami lebih dalam; serta sederet istilah yang ngintelek. Suatu cerminan pergulatan intens dengan dunia intelektualitas. Dalam khayalku, kubayangkan Wahib dengan pembacaan realitas sosial masanya, mikirkan berbagai hal secara komunal dalam Limited Group Discussion-nya, kemudian mengurai pemikiran-pemikiran dalam ruang kontemplasi, dan ejawantahkan dalam catatan harian.

Buku yang berjudul Pergolakan Pemikiran Islam: Catatan Harian Ahmad Wahib ini merupakan rangkuman pemikiran idiilnya. Walaupun saban hari, pemikiran-pemikirannya ini menuai tanggapan yang sangat beragam. Ada yang ngomen: kontroversil, liberal, antiislam, sekular; bahkan, kofar-kafir pun seakan begitu murah dijual oleh para pengasongnya, tanpa meraba utuh ‘dagangannya’. Namun toh, ada juga yang merespon positif dan membuka ruang diskursif bagi golak pemikiran kaum muda semacam Wahib ini. Terlepas dari hal itu–berangkat dari bacaan masih yang selayang pandang–dalam hemat saya, ada beberapa pemikiran Wahib yang memang patut direnungi.

Sebagai catatan harian, tentu tak luput dari unsur privatif. Namun, ia tidaklah terbatas pada hal itu semata. Sebuah pencaharian jati diri seorang mahasiswa (intelektual organik) yang intens dan progresif bergumul dalam permenungannya. Dalam tema besar yang tercatat, Wahib dengan skeptisistiknya (?) seakan mengajak telanjangi berbagai nilai ‘mapan’, yang seakan tabu dipikirkan ulang, oleh beberapa pihak. Konklusi sementara–tentu pada hemat penulis–akan catatan harian Wahib ini, adalah pergumulan akan nilai keberagamaan dan keberagaman.

Sebagai seorang muslim, Wahib tidak ridho bila keberislaman hanya terbatas ritus temurun berbalutkan aprioritas. Menurutnya, kontekstualisasi islam–atau kalau boleh penulis tambahkan bahwa, juga seluruh agama–haruslah berkesesuaian ruang dan waktu (zaman dan makan). Nilai demokrasi dan pluralisme, pun kental tertuang ketika ‘santan’ pemikirannya kita peras.

Meskipun memang–menurut berbagai pihak, dan terus terang, juga oleh penulis sendiri–ada beberapa bagian pada lembar pemikirannya–dalam bentuk pertanyaan dan pernyataan–yang memang perlu dijawab oleh orang yang berkompeten. Dan sudah ketebak–jawaban itu–tidak terdapat dalam tulisan ini. Terlepas dari itu, penulis mencoba mengajak telisik senarai pemikiran Wahib ini yang barangtentu, bertalian dengan tema kita kali ini.

(Baca juga: HUT RI-74: Merdeka 100% dari Simbol, bisakah?).

Pada beberapa bagian, Wahib dengan begitu menggebu-gebu, menggebuk pemikiran keberislaman yang dinilainya statis. Berpikir sedikit tentang suatu hal, atau katakanlah tentang Tuhan, orang-orang akan menjustifikasi bermacam-macam. Wahib, tak senang hal serupa ini. Seakan ia merontah loloskan diri dari ‘pakem’; tak lupa, juga mengajak merenungkannya.

Bahkan dengan gamblang, pada salah satu lembar catatannya, ia dengungkan: “…sampai sekarang, saya masih berpendapat bahwa Tuhan tidak membatasi, dan Tuhan akan bangga dengan otak saya yang selalu bertanya tentang Dia. Saya percaya bahwa Tuhan itu segar, hidup, tidak beku. Dia tak akan mau dibekukan…”.

Dari sini, bisa dimaknai bahwa, kecintaan terhadap suatu hal–juga tentang Tuhan (iman) dan agama–adalah dengan mempertanyakan tentangnya terlebih dahulu dan berkelanjutan. Mempertanyakan, otomatis bersenggolan keraguan. Namun, tentu itu dengan pengelolaan akal jernih. Keraguannya sendiri–dalam hemat penulis–adalah manifestasi akan kebutuhan mutlaknya dari yang diragukan tersebut.

Pergolakan pemikiran semacam ini, barangkali bila ditarik ulur pada masa Wahib, akan diketemukan pertaliannya dengan penggalian fenomena yang mendasari. Namun, gambaran utuh akan fenomena kelahiran pemikiran itu sendiri, adalah hal yang tidak akan diketemui (?). Apatahlagi–kata Gus Dur pada komentarnya di halaman 375 buku ini–kawan-kawan ataupun guru intelektual Wahib, tak memberi gambaran komprehensif akan ‘lahan’ tempat tumbuhnya ‘benih’ pemikiran itu tadi. Sungguhpun demikian, pemikiran-pemikirannya yang radikal, kritis, dan bebas; adalah patut diapresiasi. Akan menjadi bahagian dari khazanah pemikiran yang dituntut memang dinamis.

Nuansa skeptisistik, menyelimuti pada hampir tiap lembar tempat Wahib mengadu; mengadu pada Tuhannya yang selalu ia pertanyakan pula dalam keberagamaan khasnya. Keberaniannya menabrak pola pikir pakem, melabrak pola pikir lumrah. Disini, penulis harus merasa kalah oleh Wahib. Kalah berani. Harus ku akui, itu adalah hal yang kagum akan keberaniannya; harus berterus terang jua, bahwa tidak semua pemikirannya harus kuterima tanpa juga kupertanyakan.

Bahkan, banyak yang memang dituntut untuk didiskusikan. Salah satunya ialah, profanitasnya memandang segala hal. Atau katakanlah, itu berdasarkan subyektifitas penulis. Pandangannya memang dinamis, namun keantiannya akan sesuatu yang sakral (baca: profanistik), adalah sesuatu yang kurang nusantarawi. Ada banyak hal yang tidak dan memang tidak akan pernah tersentuh oleh akal manusia.

Sungguhpun demikian, nampaknya Wahib juga menyadari hal itu. Terbukti dengan argumennya sendiri: “saya sungguh tidak mendewa-dewakan kekuatan berpikir manusia, sehingga seolah-olah absolut. Kekuatan berpikir manusia, memang ada batasnya. Sekali lagi, ada batasnya…” Argumentasi yang ia lontarkan, memanglah ciamik.

Hal tersebut, sudah barang tentu beroleh dari ketekunanya jalani dunia Literasi. Membaca, berdiskusi, dan menulis. Pada bagian lain, ia meng-qiyas-kan hal tersebut dengan bahasa yang tak kalah ciamik. Kurang lebih–berikut yang penulis dapat tangkap maknanya: “kubuka baju lebar-lebar, untuk mencerap pengaruh darimanapun penjuru informasi itu mau masuk. Kubiarkan itu membentuk pikiranku, dan kubenturkan dengan intelektualitasku yang telah ada”.

Salahsatu kerisauan Wahib yang–bagi penulis pribadi–cukup menarik: pengakuannya bahwa, ia belum mengerti baik islam itu apa. Menurutnya, ia hanya mengerti islam dari (dalam teks aslinya, banyak nama tersebutkan. Disini saya perwakilkan saja) si Anu dan si Fulan. Pencariannya, atau apa yang dia cari, belum ketemu. Dari itu–menurutnya–ia tidak puas dan menuntut diberi tahu langsung tentang islam oleh pembuatnya. Tuhan.

Juga, dakunya, iaakan mencarinya dengan kaji Al-Qur’an dan Al-Hadits sendiri. Namun–ia melanjutkan–lepas dari itu, orang lainpun akan menilai juga; bahwa, islam itu hanya menurutku. Dalam kalimat pendek pada lembar lain, pun bernada sama: “Islam yang kita tahu adalah islam menurut tokoh, interpretasi ‘ulama. Belum islam menurut Allah. Islam yang kita anut (nanti), merupakan islam ‘versi’ kita.”

Sepintas, bila kita membaca argumen Wahib diatas–tanpa kejelian–barangkali akan kita interpretasi sepihak dan berakhir dengan tudingan-tudingan dangkal. Namun, lagi-lagi ini tentang interpretasi. Suatu fenomena yang–dalam bahasa Immanuel Kant, adalah–Das Ding An Sich. Untuk penulis pribadi–hal itu dapat dimaknai–bahwa, Wahib bukannya tidak sudi untuk nerimo islam dari siapapun.

Namun, sebagaimana yang ditekankan lebih lanjut olehnya; bahwa, ia harus meyakininya sebagai ‘dari’ Allah. Untuk ‘kenal’ dan yakini islam–disamping Al-Qur’an dan Al-Hadits, menurut hemat penulis–memanglah baiknya juga membersamainya dengan–meminjam istilah Hassan Hanafi–Turats. Yaitu, tradisi pemikiran para tokoh pada masa silam, yang memang tak diragukan kapabilitas dan kompetensinya. Baik yang dalam bentuk ijtihad, Ijma’, qiyas, ‘Urf, ataupun yang lainnya.

Dari beberapa pokok pemikiran Wahib diatas, nampaknya menggebrak untuk lebih menggerakkan pemikiran. Pemikirannya yang memang menuntut penempatan pluralisme dan nilai demokrasi; serta kebebasan utuh dalam ranah pemikiran. Tentu, ada begitu banyak lagi buah pemikirannya yang lain. Mulai dari yang memang kontroversil, hingga romantismenya. Bebarapa orang, turut memberi komentar akan buah pikiran Wahib pada bab lima buku ini sendiri.

Baca juga: PBNU Sudah Syar’i, lalu Mengapa Harus NKRI Ber-Label Syariah?)

Ada yang menganggap Wahib sebagai pembaharu, beserta alasan-alasannya. Pun, ada juga yang sebaliknya, dengan dasar bahwa, pemikiran semacam ini, juga tidak asing pada lintasan zaman sebelum-sebelumnya. Terlepas daripada itu–pada hemat penulis–Wahib barangkali belumlah utuh untuk lebih meledakkan dinamit pemikirannya, untuk menuai dinamisasi pemikiran. Ya, sebagaimana bahasan sebelumnya, ia, dan Gie adalah intellectual abortus. Para intelektuil yang berpulang dalam ‘kebeliaan’ usia.

Gie: Makhluk kecil merindui ‘ketiadaan’.

Pertamakali mencumbu pemikiran Soe Hok Gie (1942-1969), ialah pada akhir 2016 lalu. Adalah Karantina Baca Sahabat (KBS), suatu kegiatan yang juga diinisiasi para Sahabat Pergerakan Palopo. Buku ‘Zaman Peralihan’ Gie, terasa turut mengalihkan pikiran yang hanya berkutat pada lingkup komune sahaja, ke pergulatan yang lebih jauh lagi. Gie, seorang intelektual muda yang turut terjun dalam parlemen jalanan.

Setidaknya, ia bagian dari perancang gerakan ’66 yang melegenda itu. Ia–pemikiran yang diejawantah dalam tulisan-tulisan yang diedarkannya pada berbagai media–menjadi salahsatu martir robohnya orde lama dan memahat orde baru. Orde yang juga membebalkan bagi Gie. Kritikan-kritikannya, tak pandang bulu. Bahkan dengan tanpa tedeng aling-aling, Gie berani menunjuk hidung objek kritikannya. Suatu sikap yang rasa-rasanya, langka untuk ukuran zaman–yang katanya–demokratis ini.

Serupa dengan Wahib tadi, Soe Hok Gie sebagai intelektual organik–meramaikan jagat pemikiran dengan idealismenya–mengkritik berbagai hal lewat catatan hariannya. Namun, Gie lebih proaktive menuangkan gagasannya di berbagai media dan lebih terbuka pada ruang diskursus keseharian sekitarnya.

Keugahariannya dalam menulis dan mengkritik, tentulah melahirkan pro dan kontra terhadapnya. Beberapa yang mungkin dulunya dekat, mundur teratur untuk tidak lagi membersamainya dan menebarkan keantipatian padanya. Pun sebaliknya. Yang dulunya belum gandrungi pemikirannya, pada akhirnya memberi simpati padanya; meskipun kian hari, kian terseleksi jua.

Idealisme yang dibanggakan dan diperjuangkan keras tanpa kenal batas dan tepi, harus terbayar mahal sebagaimana tersebutkan diatas. Suatu ketika, seorang kawan intelektualnya dari luar negeri, mengiriminya sepucuk surat. Isinya: “Gie, seorang intelektual yang bebas adalah seorang pejuang yang sendirian…Bersedialah menerima nasib ini kalau kau mau bertahan sebagai intelektual yang merdeka, sendirian, kesepian, penderitaan...” Tak disebutkan gamblang nama kawannya tersebut.

Namun, ‘derita’ yang ditanggungnya, dapatlah ketebak. Apatahlagi bila kita mencermati bagian-bagian akhir catatan harian tempatnya mengadu. Atau–berdasar yang disebutkan Arief Budiman (kakak kandung Gie), dengan muram–Gie mencurahkan perasaannya (dalam redaksi penulis sendiri), bahwa: “apa gunanya bertahan dengan semua ini, toh pada akhirnya–menurutnya–ini serasa sukar. Orang-orang makin sulit memahaminya. Namun terus saja ia bertahan bak karang hitam di laut biru. Ia tetap kokoh menantang badai. Gie Tetap bertahan”.

Dalam salah satu ‘episode’ catatan hariannya, dengan lantang dan silangsungngang (Makassar: blak-blakan) ngeritik kawan-kawan sejuangnya dalam misi menumbangkan orde lama, dengan bingkisan istimewa. Terang saja–kawan-kawannya (mahasiswa) yang kini (masa orde baru) duduk manja diatas kursi empuk DPR-GR–kebakaran jenggot dibuatnya. Isi kado tersebut, tak lain adalah perkakas kosmetika.

Caption yang disertakannyapun, tak kalah menggelitik. Dengannya, Gie dan kawan-kawan lain yang tetap pada lingkaran oposisi, menampar dengan sarkasme yang kejam dan brutal. Pendeknya (dalam bahasa milenial): “Berdandanlah engkau semua di depan tuanmu, hey si manis”; ringkas, tajam, dan memuakkan mereka yang memang perlu bersadar diri.

Kritikan tajam Gie–dalam hemat penulis–bukanlah dalam hal memptreteli tandas objek kritikan dan berbalutkan ‘benci’ terhadapnya. Misalkan, betapapun keras Gie mengkritik ideologi Komunisme (PKI) yang ‘laris’ dalam MANIPOL-USDEK kala itu (orde lama); namun, ketika terjadi penjarahan dan pembredelan terhadap LEKRA dan sejuntrungannya, Gie menolak tindakan (orde baru) itu.

Bahkan, Gie dalam catatan sejarahnya–sebagai mahasiswa Fakultas Sejarah dan Sastra–mengungkap pembantaian ribuan nyawa yang dilabel komunis. Indikasi bahwa, yang dibela Gie dengan idealitasnya, adalah tak tebang pilih dalam dengungkan kemanusiaan dan kebenaran. Namun implikasinya, ia kian tenggelam dalam kesendiriannya.

Tentu–sebagaimana pada Wahib–sebagai catatan harian, Gie juga memuat lika-liku privat hidupnya. Pepuisi melankolik juga bertebaran dalam catatannya. Pada beberapa lembaran, ia curhat tentang kisah cintanya yang tak kunjung ‘indah’. Beberapa kali harus telan pil ‘kecewa’. Yang dicinta–tepatnya–dan keluarga, tak beri restu akannya.

Barangkali karena ‘kerawanan’ Gie sebagai bidak terdepan dalam percaturan keras, yang menjadi biang kerok akannya. Tercatat, tiga kali kisah asmaranya harus kandas karenanya. Pernah dalam salah satu catatan hariannya, ia mengaku melow hingga lupa diri akan malam yang kian suntuk. Imbas dari harga mahal sebuah idealisme.

Soe Hok Gie bukanlah sosok idealis yang ‘terjebak’ pada slogan-slogan semata. menurutnya–dalam salah satu catatannya–hal itu sarat akan hipokritas. Slogan untuk suatu ‘kecintaan’ adalah palsu adanya. Benarkah demikian? Dalam hemat saya, itu ada benarnya; meskipun, tumbuhnya ‘kecintaan’ yang termaksud, boleh jadi lahir dengan pengenalan via slogan tadi.

Namun bila ditinjau nongol-nya pikiran tadi, barangkali ditemui sesuatu hal yang memang paradoksal. ‘Demokrasi’ dimana-mana didengungkan kala itu; namun pada wilayah praktikalnya, itu adalah hipokrit berbaju kata-kata indah. Atau dalam bahasa Gie, itu adalah demokrasi yang dipeti-eskan. Baik itu pada masa orde lama, pun orde baru.

Dalam buku catatan hariannya pada 22 januari 1962–kata-kata Gie yang banyak dikutip oleh para pengagumnya–ia membahasakan ulang yang pernah dilontar Friedrich Nietzsche dalam The Birth of Tragedy. Tentu dengan khas Gie sendiri: “…Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua; rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda…”.

Dalam pada itu, Nietszche–versi lengkap kutipan diatas–dalam hal ini menunjuki kisah falsafati Yunani kuno. Suatu alegori pada pengisahan Midas yang bertanya pada Silenus, dan dijawab: “…manakah yang terbaik bagi manusia, hai bangsa malang? Anak-anak bencana dan duka. Mengapa aku mengucapkan sesuatu yang sebaiknya dipendam, tak dikatakan…(dilanjutkan dengan kutipan diatas)” Dan Gie, barangkali kini telah bersua bahagianya. Ia, yang kini telah mati muda.“Makhluk kecil, kembalilah dari tiada ke tiada. Berbahagialah dalam ketiadaanmu”. Abadilah dalam kebahagiaanmu, Gie.

Sebuah Re.flek.si DIRI.

Pada seluwes-luwesnya,–antara Wahib dan Gie–mereka adalah bukan untuk saling diperhadapkan dalam form komparasi yang picik. Sebuah hal yang kiranya boleh untuk tandem tanpa perlu mereka di-berantem-kan. Adalah masygul bila ingin memilih, mana yang lebih baik diantara mereka. Masing-masing spirit darinya, boleh untuk serta kita insafi. Elan pemikiran, perjuangan, dan pergerakan mereka; adalah benih diantara bejibun lainnya untuk refleksasi diri, guna bersemuka dengan zaman kita kini.

(Baca juga: AGORA: Sebuah Refleksi Untuk Indonesia Masa Kini).

Semangat–menjawab tantangan zaman yang luber dengan konten hoaks (fake news), lewat jalur pena, sebagai representasi intelektual organik–dari mereka, kiranya perlu untuk lebih digelorakan lagi. Keugaharian dan keberanian mereka dalam menyoal berbagai hal, adalah boleh diwariskan pada diri mereka yang ingin merdeka dan memerdekakan. Dalam hemat saya–bukan penganut, dan memang belum paham teori keberulangan sejarah–rasa-rasanya, antara zaman yang mereka jalani dan zaman kini, adalah sebelas-dua belas adanya. Namun, entahlah (?).

Sebagai lanjutan-lanjutan dari itu: 1.) Sektarianisme perjuangan dan hipokrisi yang ada padanya–sebagai salah satu objek kritik Gie–masih betah kini pada ruang kemahasiwaan khususnya, juga pada masyarakat umumnya. 2.) Pejuang syariatisasi dan formalisme agama dan negara–sasaran kritik Wahib–seakan kian mendapatkan tempat pula. 3.) Tema besar dari keduanya–tentang keberagaman dan keberagamaan dalam subyektifitas penulis, sebagai esensi demokrasi–pun semakin goyah. Dan lain-lain.

Betapa kini, kita harus menundukkan kepala sedalam-dalamnya; sosok intelektual yang–dalam bahasa Pram: adil sejak alam pikir, apalagi perbuatan–adalah langka. Semakin langka. Memang akan tetap ada, terus ada–walau sebiji selasi–namun, giuran tenar dan pamor, atau bahkan represifitas sebagai reaksi–menurut subyektifitas penulis–perlahan menggugurkan satu persatu.

Mustahil menjadi seperti mereka. Pun bila mau, itu adalah sesuatu yang nonsense. Namun sekurang-kurangnya, mengemban spirit dari mereka adalah mungkin adanya. Tetapi siapalah DIRI kita. Bahkan merdeka dari egoitas pun, belum mampu. Jerat sektarianistik betah membatasi ruang gerak kita. Meskipun yang terakhir disebutkan, itu kerap berujung pada “Global Paradox” a la John Naisbitt (1994) yang berbunyi: “The more universal we become, the more tribal we act.” (Wim Poli-Juni 2019). Namun, Gus Dur dengan ramuan Pluaralisme-inklusif nya, adalah ampuh meredakan ihwal tadi.

Sungguhpun demikian–Kita, atau katakanlah:–aku tetaplah bukan ini. Juga bukan itu. Atau kalau boleh memakai ‘jimat’ Wahib: Aku bukan aku, aku terus-menerus menuju dan menjadi aku. Aku adalah, aku ketika sakarotul maut.


Walloohul muwaafiq ilaa aqwaamith thoriq…


Credit: Idrisefendy.

Balandai, Palopo-August 14, 2019.


Referensi :

1. (Ebook) Soe Hok Gie: Catatan Seorang Demonstran-LP3ES 1983, Jakarta.

2. (Ebook) Pergolakan Pemikiran Islam; Catatan Harian Ahmad Wahib-LP3ES (Democracy Project: edisi digital) 2012, Jakarta.

3. Catatan lainnya.

HUT RI 74 = Merdeka 100% (dari simbol), bisakah?

Bagi pecandu literatur, terutama yang gandrung pemikir(an) revolusioner ala nusantara, tentu akrab judul diatas. Terang saja—merupakan salahsatu masterpiece sang Bapak Republik. Lebih tepatnya, Bapak Republik yang ter(di)lupakan; Tan Malaka. Tokoh yang (di)asing(kan) bagi telinga para pelajar—tentunya. Judul lengkap bukunya; Merdeka 100%: Tiga Percakapan Ekonomi Politik. Buku yang ditulisnya di sela kecamuk perang 1945 di Surabaya. Karya yang imajinatif, dengan gaya drama para karakter didalamnya. Percakapan seputar kemerdekaan dan keberdaulatan rakyat, dikemas apik dalam literatur termaksud.

Tulisan ini, bukan epos tentang Tan Malaka dan pemikiran—pun gerak gerilyanya. Bukan pula naskah khutbah tentang kedzoliman (pe)razia buku progresif revolusioner—acap disimbolkan “buku kiri” yang kian marak. Juga bukan mantra, untuk mengusir “kutukan” republik kita. Tak lain, ini sebatas “undangan” refleksasi terkait fabrikasi parade Negara-Bangsa, yang (konon) 74 tahun merdeka. Lalu, apa saja gerangan yang coba direfleksikan?. Jawabannya, terlalu banyak. Mari kerucutkan pada Simbol dan “kekerasannya“. Olehnya, kita cenderung kian terjajah; terjajah hingga sekian persen. Darinya pulalah, menjalar penelikungan kemerdekaan kita.


(Ilustrasi: Pierre Bourdieu. ©matatimoer.or.id)

“Kekerasan Simbolik” (Symbolic Violence), istilah yang mula-mula dikenalkan Pierre Bourdieu (1930-2002). Ia seorang sosiolog dan antropolog berkebangsaan Prancis. Menurut kacamata (min. 3.25) penulis, pemikiran Bordieu—tepat telak tuk telanjangi fenomena pada pendidikan, agama, sosial, budaya, politik, ekonomi, dan kroninya. Dalam artian, pemikirannya merupakan salahsatu dari sekian perangkat analisa, untuk menggerayangi pelik tanah air kita, hingga akar. Dengan spoiler sebombastis itu, jangan keburu tarik simpulan macam-macam, seakan penulis telah mafhum akan “Bourdieu”. Sebagaimana tersu(i)rat diatas, ini hanya pandangan subjektif penulis hasil selancar. Pandangan yang boleh jadi—dan memang masih banyak kurang (minus++).

Terlepas dari itu, ‘Kekerasan Simbolik’ dan sejuntrungannya dalam teori Strukturalisme Konstruktif—memanglah seksi. Mulai dari keempat Modal (Capital): budaya, ekonomi, sosial, dan simbolik; serta konsep Habitus, agen, ranah (Field), doksa, hexis, dll. Kesemuanya merupakan peranti investigasi Bourdieu mengungkap dinamika relasi kuasa yang hegemonik, dalam tatanan sosial. Pemikirannya berangkat dari fenomena hidup yang diamati. Salahsatu sumber katakan, diferensial antar ‘kejadian’ di tanah kelahiran Bourdieu (Prancis) dan tempat ia pernah bertugas (Aljazair), begitu kontras—merupakan ihwal awal teoremanya lahir. Perlu ditekankan, ini bukan saja tentang sekat binaritas (hitam-putih) semata. Namun, ini lebih njelimet daripada penjelasan matakuliah pengantar Filsafat bagi penulis pribadi.


Berikut ulasan ringkas, beberapa tipologi yang dipakai Bourdieu. Ulasan ini, penulis kelola dari beberapa sumber yang berikut tercantum (lihat; Referensi).

Pertama, habitus: Merupakan struktur mental (kognisi) para agen dalam jalani kehidupan sosialnya. habitus merupakan nilai-nilai sosial yang dihayati manusia. Tercipta melalui proses sosialisasi nilai-nilai yang berlangsung lama—mengendap jadi cara berpikir dan pola perilaku yang menetap dalam diri manusia. Habitus begitu kuat, sampai memengaruhi tubuh fisiknya. Habitus yang tertanam kuat menjadi perilaku fisik disebut Hexis. Kedua, Arena (field): merupakan tempat agen melakukan interaksi, berupa “games” (permainan-permainan). Arena sendiri berwujud jaringan hubungan antar posisi objektif didalamnya. Arena adalah suatu miniatur dunia sosial—penuh dengan kesepakatan yang bekerja secara otonom dengan hukum-hukumnya sendiri.

Ketiga, Modal. Bourdieu menganggap bahwa, modal memainkan peranan penting—mengendalikan diri sendiri maupun orang lain. Bourdieu memaknai modal bukan semata berbentuk materi. Melainkan, hasil kerja terakumulasi dalam bentuk yang “terbendakan”. Modal merupakan aset individu dalam lingkungan sosialnya dan menentukan posisinya dalam arena. Menurut Bourdieu terdapat empat modal: ekonomi, sosial, kultural, dan simbolik. Bourdieu menilai modal simbolik seperti harga diri, martabat, atensi—merupakan simbol kekuasaan yang krusial. Modal simbolik adalah setiap modal yang dipandang melalui skema hubungan sosial—ditanamkan secara sosial pula.

Keempat, kekerasan simbolik; adalah pemaksaan kategori-kategori pemikiran dan persepsi terhadap agen-agen sosial lain, yang kemudian anggap tatanan sosial itu, sebagai sesuatu yang adil (doksa). Ketika pemilik modal gunakan modalnya terhadap agen yang lebih lemah (nonmodal)—itu akan jajah pikiran dan tindakan agen, sesuai keingingan. Fenomena ini menunjukkan terjadinya kekerasan simbolik. Kekerasan yang jauh lebih kuat daripada kekeraasan fisik, karena melekat dalam setiap bentuk tindakan struktur kognisi individu, dan memaksakan legitimasi pada tatanan sosial.

Kelima, Doksa (doxa): adalah kepercayaan dan nilai-nilai tak sadar, berakar mendalam, mendasar, yang dipelajari, yang dianggap sebagai kebenaran universal yang terbukti dengan sendirinya (selfevident), yang menginformasikan tindakan-tindakan dan pikiran-pikiran seorang agen dalam ranah (field) tertentu. Doksa cenderung mendukung pengaturan sosial tertentu pada ranah tersebut, dan dengan demikian mengistimewakan pihak yang dominan dan menganggap posisi dominan tersebut sebagai terbukti dengan sendirinya dan lebih diterima atau disukai secara universal (universally favorable).


Beberapa tipologi diatas, memberi indikasi bagaimana prosesi terkonstruknya suatu tatanan sosial—termanifestasi dalam simbol-simbol tertentu. Olehnya, patut diingat seksama, bahwa tidak ada sesuatu yang sepenuhnya ditentukan oleh kebebasan dan terjadi begitu saja. Semua ter(di)kendali(kan) oleh “kekuatan-kekuatan” tertentu dan berkorelasi. Tak patut memandang suatu fenomena secara parsial. Perlu penalaran kohesif-koherensif. “Hate Speech” misalkan, takkan dinilai demikian sekiranya ada keselarasan “paham” dalam tataran penerimaan doksa antar agen terkait—serta tak mengacu pada modal simbolik, yang berujung pada “kekerasan simbol” bila itu terusik.


Tanpa perlu bertedeng aling-aling lagi, mari kita buka salahsatu kado HUT-RI 74. “Kado” yang dimaksud: kasus ujaran UAS yang kontroversial. “Kado” kedua, sebenarnya tak kalah seksi—tentang kondisi Papua kini. Namun simpang siurnya informasi bagi penulis—nampaknya butuh pendalaman lebih tuk membahasnya. Keduanya merupakan “gemuruh badai” ditengah euforia 17-an. Bahkan menurut dugaan berbagai pihak, “keduanya” merupakan “lagu lama“—dirancang sedemikian rupa—perilisannyapun hampir bersamaan. Menguatkan dugaan, bahwa ini perwujudan suatu agenda “geoekopol“—Keduanya sebagai jalur legitimasi. Namun, entahlah (?). Dari sejara, kita bisa ambil banyak pelajaran—sejarah pulalah yang akan mencatat apa yang terjadi kini.

Kembali ke laptop. Fokus pada kasus “kekerasan simbolik” kita, yaitu tersibaknya pelaporan terhadap UAS. Sejagat Mayantara pun bergolak. Laporan yang dimaksudkan, sekaitan ujaran UAS yang dinilai melecehkan simbol keyakinan Umat Kristiani—tepatnya Salib. Sontak, hal itu tuai kecaman sana-sini. Pengecamnya, ada yang atas nama Kristen sendiri; ada pula dari yang seagama dengan UAS; pun elemen atau ormas lainnya. Tercatat, ada dua ormas yang mengajukannya ke meja hijau. Intinya, mereka khawatir Pluralisme dalam balutan kebhinekaan kita—luntur begitu saja.

Berikut petikan ujaran UAS: “…Apa sebabnya kata ibu itu, mirip macam gini. Saya terlalu terbayang salib, tampak salib. Jin kafir sedang masuk. Karena di Salib itu ada jin kafir. Dari mana masuknya jin kafir? Karena ada patung. Makanya kita tidak boleh menyimpan patung. Jin kafir itulah yang mengajak. Kalau kau tak sanggup mengkafirkan dia waktu hidup, kafirkan dia menjelang kematiannya. Tak juga sanggup, antar dia ke makamnya pakai wiu wiu wiu … ambulance lambang kafir. Balik dari sini, beli piloks hapus itu ganti bulan sabit merah…”. Tawapun semerbak dari jemaah UAS, dalam rekaman video tersebut.

Menelisik senarai argumen UAS diatas, setidaknya, ada dua poin utama yang bisa dipetik. Pertama, gugahan terkait simbol salib yang menurut UAS, ialah patung Jesus yang ada pada sebilah Salib—menjadi tempat bersemayam Jin Kafir. Poin kedua, mengingat Salib disimbolisasi kafir, maka konsekuensinya, segala jenis objek yang digambari dengan simbol salib, dapat membawa umat Islam pada kekafiran. Maka seyogianya dihapus dan diganti dengan simbol yang lebih Islami. Olehnya, simbol ambulance dan juga Palang Merah Indonesia (PMI), dikonversi jadi Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI). Wadaaw..


Adapun poin pertama, terkait Patung Jesus pada Salib yang disimbolkan sarang jin kafir oleh UAS. Statemen ini, sudah barang tentu sangat disayangkan. Mengingat, tak sedikit tokoh lain yang bersimbah peluh—menjaga dan merawat kebhinnekaan kita. Gus Nadir misalkan, beliau yang memang giat merawat pluralisme, tak ketinggalan tanggap. “Bisa gak kita menjelaskan akidah kita tanpa harus menjelekkan kepercayaan dan keimanan pemeluk agama lain? Bisa bangettt. Caranya? Seperti mengagumi cantiknya istri kita, tanpa harus mengatakan istri orang lain jelek. Sesederhana itu,” cuitannnya di Twitter, Senin (19/08/2019).

(Baca juga:AGORA: Sebuah Refleksi 1Untuk Indonesia Masa Kini.).

(Credit Ilustrasi : ifrc.org)

Teruntuk poin kedua, guna memahami lebih baik duduk perkara, esai Zainal F. Firdaus telah cukup gamblang membahasnya dan diterbitkan Qureta.com (15/10/2018). Tulisannya berjudul Simbolisme Agama dan Kesatuan yang Terbagi Tiga (klik: baca). Mula-mula, dibahas tentang Henry Dunant—peraih nobel perdamaian pertama. Ia berasal dari Swiss. Dunant dianugerahi nobel, berkat perjuangan kemanusiaannya dan juga mendirikan Komite Palang Merah Internasional. Olehnya, disepakati logo PM, yang mirip bendera Swiss, sebagai bentuk penghargaan kepada Dunant. Namun, egoisme simbolik “agama”—menelikung kesatuan simbol kemanusiaan Internasional ini. Ironis.


Dilansir dari cnnindonesia.com (18/8/2019), UAS memberikan klasifikasi. Bahwa, ceramah ini sendiri pada dasarnya—khusus internal Muslim saja—apalagi video yang diduga mengandung unsur pelecehan tersebut, sudah berumur tiga tahun. Klarifikasi yang demikian—secara ketatabahasaan, sama sekali belum turut meredakan tensi “kekerasan simbolik” sebagaimana bahasan diatas. Malah, ada unsur afirmatif “terselubung“. Seakan boleh “mengatai” seseorang begini, bila sedang disini pada saat ini—orang itu, bila sedang disitu dan di waktu itu. Lalu, apa kekira beda dengan kasus BTP (Al-Maidah 51) dulu? Tafsiran ayat dan simbol? Mungkin saja. Tapi yang paling menohok bedanya, ialah sikap atau tanggapan akannya. Semoga.

(Baca juga: Moderasi Berpikir dan Fenomena Syariatisasi).

Walau memang kadung ada yang memeja-hijaukan perkara ini, namun dalam berita yang dimuat tempo.co (20/8/2019) dikatakan bahwa, Persekutuan Gereja Indonesia (PGI)—menolak pengajuan delik pidana terhadap UAS. Gomar Gultom, mewakili pendeta lain menegaskan, iman umat Kristen takkan goyah dengan ceramah tersebut. Dia menilai kebenaran Kristus dan makna (simbol) salib tidak berkurang dengan isi ceramah UAS. PGI pun mengimbau umat Kristen untuk tak terpancing dan tersulut emosi terkait ceramah UAS, ataupun provokasi lainnya. G.Gultom mengatakan sebaiknya yang merasa kecewa dengan isi pidato tersebut, menjelaskan makna salib kepada UAS dan pengikutnya, seraya menyampaikan kasih Kristus.

Dalam hal ini, penulis perlu tekankan (kembali), bahwa ada beberapa nama tersebutkan—itu tidak mengurangi hurmat penulis pada semuanya. Tak lebih, ini sebatas uneg-uneg pribadi terkait simbolitas dan segala carut marut yang bisa dihasilkan darinya. Betapa damai nan tentram, sekiranya egoisme simbolik yang sektarianistik, bisa diredam dengan tumbuh bersama dalam keberbedaan, namun tetap dalam payung kebersamaan dan kesetaraan. Barangkali, kita masih ingat bersama, apa-apa yang telah dikristalisasi oleh para founding fathers kita, sebagai asa bersama yang patut kita renungi. Merdeka 100% dari simbol, barangkali adalah bullshit. Namun Merdeka 100% dari “kekerasan simbol“, nampaknya merupakan sesuatu yang bisa diniscayakan bersama.

(Baca juga: ‘PBNU’ Sudah Syar’i, lalu Mengapa Harus NKRI Ber-Label Syariah.)


Walloohul muwaafiq ilaa aqwaamith thoriq…


Credit: Idrisefendy.
Malangke-August 20, 2019.


Referensi:

~ academia.edu (Kekerasan Simbolik – Sebuah Analisa Pemikiran P. Bourdieu). – Darius Ade Putra. (Diakses pada 17 Agustus 2019).

~ matatimoer.or.id (Habitus, Modal Simbolik, dan Dominasi: Pengantar Singkat Menuju Pemikiran P. Bourdieu). – Ikwan Setiawan. (Diakses pada 17 Agustus 2019).

~ satrioarismunandar6.blogspot.com (P. Bourdieu dan Pemikirannya Tentang Habitus, Doksa, dan Kekerasan Simbolik). – Satrio Aris Munandar. (Diakses pada 16 Agustus 2019).

~ qureta.com (Simbolisme Agama dan Kesatuan yang Terbagi Tiga). – Zainal Fahmi Firdaus. (Diakses pada 18 Agustus 2019).

~ qureta.com (UAS dan Salib Ambulans). – Hanafi Wibowo. (Diakses pada 18 Agustus 2019).

~ m.cnnindonesia.com (UAS Klasifikasi Ceramah Tanya Jawab Soal Salib). – Zafir Makki (Diakses pada 19 Agustus 2019).

~ nasional.tempo.co (PGI Tak Setuju Ucapan UAS Dibawa ke Pidana). – Halida Bunga. (Diakses pada 20 Agustus 2019).

Moderasi Berpikir dan Fenomena ‘Syariatisasi’.

Rabu 31 juli lalu, diskusi hangat berlangsung sejak pukul 21.00 hingga 22.30 WITA di salahsatu channel TV nasional. Mata Najwa, demikian nama program acara perpekan yang dimaksudkan. Beberapa tokoh nasional, terlibat dalam diskusi kala itu. Para tokoh yang dimaksudkan, antara lain: KH. Marsudi Syuhud, Maman Imanulhaq, Lutfi (Direktur Ormas Ditjen Polpum Kemendagri), Mardani Ali Sera, Awit Mashuri dan lainnya.

Dalam acara yang dipandu oleh anak kandung seorang ulama besar pengarang kitab tafsir Al-Misbah, yaitu Najwa Shihab, mendiskusikan salahsatu isu yang memang kontroversial saat ini. Pasalnya, mengangkat tema “FPI: simalakama ORMAS”. Center point diskusi ini sendiri, terkait perpanjangan izin (SKT) ormas yang disebutkan. Namun belakangan, menyeruak ke berbagai poin lainnya. Walau memang tak bisa dipungkiri keterkaitannya satu sama lain.

Diskusi ini sendiri, menurut hemat penulis cukup alot. Mba Nana (red. Najwa Shihab) kerap terlihat mengambil tindakan untuk “memotong” argumen yang dilontarkan oleh para pembicara. Tak lain, itu dilakukan demi menjaga stabilitas dan kondusifitas berlangsungnya acara. Adapun para pembicara, satu sama lain menyodorkan argumentasi terkait isu yang sementara dibahas. Ada yang terdengar afirmatif, konfirmatif, tendensius, dan ragam jurus silat lidah pamungkas yang oleh mereka peragakan.

Alotnya diskusi, sekaitan ditelanjanginya anggaran dasar/anggaran rumah tangga (AD/ART) FPI sendiri. Tentang nilai Pancasila, kekhilafahan, serta praktik lapangan yang paradoksal dengan argumentasi salah seorang penggawa ormas berlogo segitiga tersebut. Barangkali argumen diatas tergolong subjektif. Namun rasa-rasanya, memang demikian adanya. Bahkan, kata “simalakama” sebagaimana dalam tema pun bila kita cek KBBI, serasa menelurkan indikator penguat simpulan tersebut (?).

Dalam salahsatu sesi acara ini, ada hal yang membuat pikiran penulis terbelalak. KH. Marsudi Syuhud, salah seorang Kyai petinggi PBNU melontarkan argumen yang begitu menarik bagi penulis pribadi pada sesi itu. Beliau berargumen, “Kita gak usah takut-takut amat dengan kata syariah. Karena sesungguhnya, maksudnya adalah dimana saja ada kemaslahatan, maka disitu sudah syariah. Maka mencari syariah gak usah susah-susah”, ujar beliau. Ihwal yang perlu digarisbawahi: “jangan takut amat pada kata syariah”. Atawa barangkali boleh disepadankan dengan “jangan phobia syar’i“, untuk lebih terdengar kece, kalau tak hendak tuding kebarat-baratan.

Mengapa dikatakan Phobia? Sederhananya, hal itu berangkat dari adanya “Wabah Hijrah” yang muatannya terindikasi “syariatisasi” segala aspek dan lini kehidupan. Seakan segala sesuatunya harus dilabeli kata “syariah”. Mulai dari bank syariah, rumah makan, jilbab, hukum, pakaian, serta syor’a-syar’i lainnya. Seakan semua bisa dibungkus kata Syar’i. Bahkan, pernah dalam suatu forum yang penulis ikuti, disodorkan pada statemen yang masygul dicerna, “Afwan akhi, tapi izinnya harus syar’i..” demikian statemen yang dimaksudkan. Sekali lagi, “izin syar’i…!!1!1!” wqwqwq.

Barangkali tersebab hal serupa, atau bahkan yang lebih masygul lagi, maka upaya normalisasi dilakukan. Hal itu berupa Counter Wacana untuk menanggapi fenomena “syariatisasi” tersebut, gencar dilakukan. Mulai dari para da’i turun gunung ke lembah sosmed, hingga para “meme maker” dan beranda akun sh*tpost pun berseliweran. Dengan misi, mereduksi pola gerakan yang seakan “menjual murah” unsur agama tersebut. Polarisasi masif pun menuai hasil signifikan. Bahkan karena pola ini begitu membekas, maka jadilah “Phobia Syar’i” sebagaimana diatas. Barangkali demikian sekilas asumsi subjektif terkait pelik ini.

Asumsi tersebut, erat kaitannya dengan teori Psychoanalysis nya Sigmund Freud (1856-1939). Nama ini, pertamakali penulis dengar dari salah seorang sahabat senior pergerakan. Kala itu, kami mendiskusikan ID, Ego, dan Superego milik Freud tadi. Ketiga komponen tersebut, ada dalam diri manusia dan memengaruhi pola lelaku manusia. Belakangan, nama Freud tersebut sesumbar terdengar kembali, pada pertemuan mata kuliah yang penulis ikuti. Kali ini membahas tentang tiga jenis kecemasan yang bisa berujung fatal, termasuk Phobia. Ketiganya ialah Reality Anxiety, Neurotic Anxiety, dan Morality Anxiety. Ketiganya, erat bertalian dengan ID, Ego, dan Superego tadi.

Pendeknya, pemberitaan yang terus berulang berupa postingan; baik itu pemberitahuan berbalut penghakiman, kultum (red. peringatan) berbalut guyon, guyon berbalut low-bully (red. sarkas), dan sebangsanya. Ini yang akan melahirkan Reality Anxiety atau kecemasan akan realitas, yang tersuntik ke alam bawah sadar khalayak. Inilah yang bisa berujung pada phobia itu sendiri. Seakan “syariah” adalah musuh bersama. Hal inipun sejalan dengan teori Stimulus-Response (Behavioristic : Skinner) tentang bagaimana terbangunnya pola pikir, melalui stimulan yang diberikan berkala; dalam hal ini, berupa “ketakutan” akan kata “syariah” yang lambat laun mengalami peyorasi.

Barangkali demikian, tentang muasal “Phobia Syar’i” yang dilontarkan Kyai Marsudi tadi. Hal ini bila terjadi pembiaran, tentu akan mengejawantahkan pemikiran, yang cenderung menjauh, jauh dari yang memang pada dasarnya diperjuangkan. Patut pula digarisbawahi kelanjutan statemen Pak Kyai tadi, yaitu “kemaslahatan”. Jadi sederhananya, kemaslahatan itu adalah bagian dari syar’i; dan tidak akan bernilai syar’i sesuatu yang timbulkan hilangnya kemaslahatan. Cuma pada wilayah praksisnya, banyak yang cenderung mengejar merk (syar’i), ketimbang kemaslahatan itu sendiri. How paradoxical those are..!!1!

Adapun lanjutan statemen Kyai Marsudi: “Maka mencari syariah, gak usah susah-susah”. Statemen ini sendiri boleh kita maknai, “daripada sekadar mengejar bungkus, mending nikmati isinya. Gitu aja kok repot”. Untuk diingat bahwa, pemungkiran akan fenomena “latah syariat” ini sendiri, adalah buah dari kelatahan pula. KH. Abdurrahman Wahid, sang guru bangsa dalam esainya, yang dimuat surat kabar Tempo.co pada 16 Juli 1983 silam, beliau menyatakan pandangan yang super canggih nan visioner sekaitan hal ini. Bahkan dengan gamblang, Beliau uraikan dalam “Salahkah Jika Dipribumikan?“, judul esainya tersebut.

(Tempo 18/7/1983).

Adapun konklusi yang penulis dapatkan dari esai tersebut ialah, sebagai masyarakat muslim nusantara, kita dengan pola yang tersistematis, mengalami penjajahan karakter. Penjajah yang dimaksudkan, ialah pikiran yang ditengarai “syariatisasi“. Mulai dari arsitektur, ikat kepala (udeng), peminggiran kosakata asli nusantara, budaya, dan lain setamsilnya. Kesemuanya mengarah pada pemangkasan akar-akar budaya, yang pada dasarnya telah berpilin dengan islam (red. syariah). “Syariat islam, salahkah bila dipribumisasikan?”, ringkasnya. Patut direnungi bahwa, bukankah bila kita tercerabut dan menegasikan akar budaya tersebut, maka persemaian yang bagaimana lagi yang kita harapkan?

Peliknya perkara sendiri, tampaknya kian berkelindan bila ekstremitas upaya counter dari “penjajahan” tersebut, malah melahirkan garis demarkasi baru. Seakan yang mengucapkan dan menggunakan kata ‘syariah’, mutlak dikatai sebagai anti-nusantara, padahal “tidak”, namun memang ada kemungkinan “iya”. Lagi-lagi, ini tentang Moderasi dalam berpikir. Bukankah yang lebih diutamakan adalah “kemaslahatan” ketimbang, perdebatan berurat leher tentang kata “syariat” ini sendiri?, sudah jelas bahwa, hal yang lebih diutamakan ialah SASARAN, bukan SARANA.

Lalu apa poinnya dengan FPI? bukankah bahasan ini belum terang atau belum jelas kelaminnya? benarkah demikian?. Mari kita dudukkan semula selayaknya awal tulisan ini sendiri. Front Pembela Islam (FPI), sebuah organisasi masyarakat yang saat ini tengah rusuh sendiri terkait SKT nya. SKT ini sendiri, dibutuhkan sebagai legalitas organisasi tersebut. Namun, pada pembahasan dalam acara Mata Najwa sendiri, harus melewati beberapa prosedur untuk dapatkan SKT. Sebagaimana dimuat Republika.co.id pada 02 Agustus lalu, setidaknya, FPI harus memenuhi 5 persyaratan lagi. Aral baru pun melintang.

Adanya aral ini, bukan sesuatu yang tetiba adanya. Salahsatu yang paling menohok ialah, sekaitan garis juang FPI sendiri. Diduga, FPI berupaya melakukan “Syariatisasi”, bahkan itu pada dasar dari Negara kita sendiri. Hal inipun sekelabatan dengan tidak tercantumnya Pancasila, dan malah menyertakan Khilafah pada AD/ART nya. Lalu, apa kabar dengan praktik lapangannya?. Barangkali pada wilayah ini, kita bisa lihat seksama, betapa kita patut bangga akan ghiroh dakwah FPI ini. Namun pada skop wilayah yang lebih jauh, kita harus berterus terang bahwa, jika dakwah atas nama “syariat” namun memperkosa tatanan sosial (kemaslahatan), maka impotenlah dakwah tersebut.

Baca juga : AGORA: Sebuah Refleksi Untuk Indonesia Masa Kini

Tak bermaksud ungkit luka lama, tapi ‘Insiden Monas 2008‘, masih membekas. Adalah para pentolan FPI, dalang kekerasan simbol dan intoleransi tersebut. Menarik untuk ditilik bersama, sebuah esai yang dimuat oleh Kompas.com pada 4 januari 2019 lalu. Pada esai ini, tercantum nama pena ABK dengan judul “Api dalam Sekam, Intoleransi Simbolik”. Pada paragraf keempat dan kelima, nama Halili (Direktur Riset Setara Institut), beserta pandangan-pandangannya disertakan. Disitu tertulis terkait penyebab tingginya intoleransi simbolik berwujud dakwah atasnama syariat, itu ada dua. Kedua sebab tersebut ialah, lemahnya penegakan hukum dan posisi pemerintah yang kurang peduli pada korban intoleransi, wabilkhusus minoritas.

(Kompas 4/1/2019).

Lebih lanjut, Halili mengatakan: “(Impunitas semper ad deteriora invitat), sebuah pembiaran atas terjadinya peristiwa biasa, pasti mengundang kejahatan lain yang lebih besar. Banyak kasus atas pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan yang diabaikan dan tidak ditindak. Pemerintah lebih berpihak pada yang mayoritas sehingga tidak ada pemulihan atas hak-hak minoritas. Ini akan memicu peristiwa lain dan kejahatan yang lebih serius lagi”. tutupnya. Sampai disini, rasa-rasanya klimaks mulai tampak. Bahwa, barangkali ini adalah upaya ‘cutting down‘ api dalam sekam tadi, ataukah kecurigaan lain yang dinilai politis sebagaimana yang ditudingkan dalam acara tersebut? entahlah.

Terlepas dari hal tersebut, memanglah upaya moderatisasi, fardlu ‘ain diupayakan. Mengingat, ‘api dalam sekam’ ini memang nyata adanya. Belum beranjak dari beranda ingatan, sekaitan fenomena pada awal tahun 2019 lalu, yaitu adanya aksi pemotongan salib nisan umat Kristiani di Kota Yogyakarta. Pun dengan yang terjadi di Kota Magelang beberapa pekan setelahnya. Keduanya, serupa namun tak sama. Pasalnya, pengrusakan pada kejadian kedua tersebut lebih banyak (21) dan terjadi pada kuburan umat Kristiani dan Muslim sendiri. Betapa konservatisme dan ‘kejahatan simbol‘ yang meluluhlantakkan kemaslahatan seakan dibiarkan.

Baca juga : PBNU Sudah Syar’i, Lalu Mengapa Harus NKRI Ber(label)Syariah?

Yang terbaru (30/07/2019) ialah, aksi penutupan rumah makan yang menyediakan menu fork (daging babi). Aksi ini sendiri terjadi di salahsatu Mall yang berlokasi di Makassar. Menurut info yang beredar, aksi ini berangkat dari kerisauan para warga. Ironisnya, aksi ini mengatasnamakan ‘aksi jaga moral’. Bukankah dalam hal ini justru moral tersebut malah mengalami ‘banting harga‘?. Menjaga moral yang sifatnya lokal, kemudian menelanjangi moral yang bersifat global, itu barangkali bisa dikata ambigu bila tak hendak katakan sebagai amoral. Sesuatu yang bahkan lebih merisaukan daripada kerisauan (alasan) para pelaku.

Lalu bagaimana dengan solusi? Menurut Guru Besar Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yaitu Prof. Dr. Azyumadi Azra, ialah “penindakan tegas teruntuk para pelaku intoleransi berlandaskan konstitusi dan pendekatan Kultural yang juga harus melibatkan para tokoh masyarakat, agama, budaya, dan lainnya“. Moderasi dalam berkeyakinan pun patut dipupuk beriring kearifan lokal sebagai akar budaya yang memang menjadi pengikat ke-Bhinneka-an kita. Gus Dur pun bilang, “Islam datang bukan untuk mengubah budaya leluhur kita jadi budaya Arab. Bukan untuk aku jadi ana, sampeyan jadi antum, sedulur jadi akhi. Kita pertahankan milik kita, kita harus filtrasi budayanya, tapi bukan ajarannya“.

Walloohul muwaafiq ilaa aqwaamith thoriq….


Idrisefendy
Malangke 05 Agustus 2019.


Referensi:

1. CNN Indonesia

2. Republika.co

3. Kompasiana.com

4. Wikipedia.org

5. Koran Tempo – 18/7/1983.

6. Koran Kompas – 4/1/2019.

7. @MataNajwa