●●● – – – -●- ●-● ●- – ● ●●●

-●● ●● ●- || -●- – ●- -● –● || ●● -● – -● ●● -● || – – ● -● – -● – -● ● ●-● ●- -●- -●- ●- -● || -●● ●●- -● ●● ●- || ●- -● ● ●-● – ●- – – ●- – ●- – – ●- ||-●● ●● ●- || ●●●● ●- ●-● ●●- ●●● || – – ● -● – -● – -● ● ●-● ●- -●- -●- ●- -● || -●● ●● ●-● ●● -● -●- – ●- || ●●● ●● -● -●● ●● ●-● ●●|| – – ●- -●- ●- || -●● ●● ●- || ●●●● ●- ●-● ●●- ●●● || – – ● -● – -● ● -● ●- ●-●● ●● || -●● ●● ●-● ●● -● -●- – ●- || ●●● ●● -● -●● ●● ●-● ●● |||


“Dia yang ingin menggerakkan dunia, pertama-tama dia harus menggerakkan dirinya sendiri; maka, dia harus mengenali dirinya sendiri.” (Socrates).


Jum’at mabbarakka’.

Palopo-march 02nd, 2021.

Ihwal: “Aku Lebih Baik Daripada Dia”

Qs. Al-A'rof: 12

Dalam bahasan ini, terkandung kisah Iblis yang melontarkan perkataan sebagaimana dapat dilihat pada gambar ilustrasi di atas. Iblis berkata demikian di hadapan Allah SWT., sebagaimana diabadikan di dalam Al-Qur’an pada surat Al-A’rof ayat 12.

Untuk selanjutnya, juga akan dibahas hal terkait lebih lanjut. Ya, DIRI kita kadang luput akan apa yang menjadi center point bahasan ini. Di dalam pembahasan ini sendiri, akan ada banyak amtsal (pemisalan, analogi, atau contoh). Tak lain, itu dilakukan agar kita lebih bisa memahaminya seksama.


» Saya mengandaikan si FULAN berkata: “Aku lebih baik daripada si ANU.”

Perkataan itu, mengandung dua macam pengetahuan. Pertama: pengetahuan si FULAN tentang dirinya sendiri. Kedua: pengetahuan si FULAN tentang si ANU. Jadi, perkataan itu adalah kesimpulannya, dari dua macam pengetahuan.

Sebagaimana perkataan iblis—”Aku lebih baik daripada ia, Engkau ciptakan aku dari api dan Engkau ciptakan ia dari tanah“—juga mengandung dua macam pengetahuan. Pertama: pengetahuan iblis tentang dirinya. Kedua: pengetahuan iblis tentang Adam.

Perkataan “Aku lebih baik daripada Adam”, adalah kesimpulan dari pengetahuan iblis tentang dirinya dan pengetahuan iblis tentang Adam.

Api dan tanah dalam perkataan iblis, menunjukkan materi. Artinya, keduanya merupakan sesuatu yang bisa diindra. Jadi, pengetahuan iblis tentang dirinya dan tentang Adam, ialah pengetahuan indrawi. Karena itu menunjukkan aspek material.

Dalam kitab al-Mustashfa, Imam Al-Ghazali menjelaskan: pengetahuan manusia tentang dirinya (علم الإنسان بوجود نفسه) merupakan bentuk pengetahuan aksiomatis (العلم الضروري). Artinya, kebenaran darinya bersifat niscaya dan pasti, yang itu berlaku bagi pemiliknya sendiri.


Sekarang, saya akan jelaskan lebih dahulu perihal pengetahuan manusia tentang dirinya sendiri.

» Setelah si FULAN membaca ayat: “Sungguh Kami telah mencipta manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”. Lalu, si FULAN berkata: “Aku adalah sebaik-baik ciptaan Allah.” Perkataan tersebut, merupakan pengetahuan si FULAN tentang dirinya sendiri, berdasarkan pada Wahyu (Ilahiyah).

Pada keesokan harinya, si FULAN sedang melihat kelaminnya sendiri. Lantas, ia berkata: “Aku adalah seorang laki-laki”. Perkataan itu adalah pengetahuan si FULAN tentang dirinya, berdasarkan pada pengalaman indranya (indrawi) sendiri; yaitu: melihat kelaminnya sendiri.

Malamnya, si FULAN merenungi dirinya, akan suasana hatinya kini. Si FULAN berkata: “Aku sungguh bahagia saat ini.” Perkataaannya ini, adalah pengetahuan si FULAN tentang dirinya, berdasarkan pada penyaksian Bathin (Bathiniah).

● Jadi, pengetahuan manusia tentang dirinya bisa diperoleh melalui wahyu (Ilahiyah), pengalaman mengindra (Indrawi), dan juga penyaksian bathin (Bathiniah).

Perlu diingat, sebagaimana telah dijelaskan oleh Imam Al-Ghazali bahwa: pengetahuan manusia tentang dirinya merupakan pengetahuan aksiomatis yang kebenarannya tidak diragukan.


Selanjutnya, saya akan menjelaskan pengetahuan manusia terhadap sesamanya.

» Setelah melihat wajah seorang Perempuan di sudut kota, si FULAN berkata: “Perempuan itu sungguh cantik.” Dapat dikatakan bahwa: perkataan si FULAN ini merupakan pengetahuannya tentang orang lain, berdasarkan pengalaman indranya.

Waktu berlalu. Kini, si FULAN menjalin kasih dengan si Perempuan cantik dari sudut kota tadi. Adapun si FULAN, ia telah berkasih dan merasakan perlakuan kekasihnya tersebut. Hingga suatu ketika, si FULAN merenungi kisah asmaranya. Lantas, ia berkata: “Perempuan itu benar-benar mencintaiku.”

Perkataan su FULAN di atas, dapat dikatakan sebagai pengetahuan si FULAN tentang orang lain (yaitu si Perempuan dari sudut kota tadi), berdasarkan penyaksian batin yang diproses dari renungan dan kejernihan bathiniahnya.

● Jadi, secara umum, pengetahuan manusia terhadap sesamanya (orang lain), dibangun berdasarkan pengalaman indra (indrawi) dan penyaksian batin (bathiniyah).


Ibn ‘Atha’illah mengatakan:

أجهل الناس من ترك يقين ما عنده لظن ما عند الناس

“Paling bodohnya manusia, adalah orang yang meninggalkan keyakinan (اليقين) dalam dirinya, karena prasangka (الظن) pada sesama.”

Dalam pandangan Ibn ‘Atha’illah di atas, pengetahuan manusia tentang dirinya sendiri, bisa dikategorikan sebagai keyakinan (اليقين). Karena, ia tidak bisa menolak dan menyangkal kebenarannya. Sedangkan pengetahuan manusia terhadap sesama, bisa dikategorikan sebagai prasangka (الظن).

Baca juga: “Logika Setan” dan Al-Hikam.

» Misal, si FULAN mengtahui kalau dirinya adalah orang yang melaksanakan salat tiap hari. Sebab itu, si FULAN “menyakini” kalau dirinya adalah orang taat. Di sisi lain, si FULAN melihat bahwa si ANU adalah orang yang tidak taat. Karena, si ANU tidaklah salat setiap hari. Sebab itu, si FULAN “menduga” kalau si ANU itu orang durhaka.

Berdasarkan pengetahuan si FULAN tentang dirinya dan juga pengetahuannya tentang si ANU, si FULAN lantas berkata: “Aku lebih baik daripada si ANU. Aku salat setiap hari dan si ANU tidak demikian.

Perkataan si FULAN pada kalimat pertama di atas, adalah pengetahuannya tentang dirinya. Ia tidak bisa sangkal kebenarannya. Karena selama ini, ia memang salat setiap hari.

Sedangkan perkataan si FULAN pada kalimat kedua di atas, adalah pengetahuannya tentang si ANU. Dalam hal ini, kebenaran dari pengetahuan si FULAN tentang si ANU, bisa saja salah. Karena, si FULAN tentu saja tidak selalu bersama si ANU.

● Maksudnya: pengetahuan si FULAN tentang si ANU, adalah sebatas praduga (الظن) dan bukan keyakinan (ابيقين).


Sekarang, saya ingin menegaskan bahwa: pengetahuan manusia tentang dirinya, merupakan sebuah keyakinan. Karena, kebenarannya tak bisa disangkal oleh dirinya. Sedangkan pengetahuan manusia terhadap orang lain, merupakan prasangka. Karena, kebenarannya masih bisa diadu dan disangkal dengan bukti lain.

Jadi, ketika si FULAN mengatakan: “Aku lebih baik daripada si ANU. Karena Aku begini dan Dia begitu…” Maka, ia sesungguhnya sedang membandingkan “keyakinan” dengan “prasangka”. Tentunya, jika keyakinan dibandingkan dengan prasangka, maka keyakinan akan jadi yang utama. Karena, ia lebih kuat validitasnya.

Sebenarnya, kebenaran manusia tentang dirinya sendiri, akan diuji “kebenarannya” oleh waktu dan tempat. Sedangkan, kebenaran manusia terhadap sesamanya, akan diuji “kebenarannya” dengan fakta.


» Sepekan—setelah si FULAN mengatakan”Aku lebih baik daripada ia. Aku salat tiap hari dan ia tidak“—kemudian, si FULAN tidak salat karena suatu dan lain hal. Maka, kebenaran dari perkataannya sendiri, tertolak. Karena, waktu telah menguji dan membuktikan ketidak-benaran perkataannya sendiri sebelumnya.

Lebih lanjut. Berbulanan kemudian, si FULAN melihat si ANU melaksakan salat secara kontinyu. Sebab itu, kebenaran dari perkataannya tadi, yaitu: “si ANU tidak pernah salat”, pun juga telah tertolak. Karena, fakta menunjukkan yang lain.

● » Dari itu semua, sebenarnya, pengetahuan seperti apa sih yang bisa dijadikan sebagai dasar, kalau seorang manusia lebih baik dan mulia daripada manusia lainnya? Sebab itu, tidak ada alasan rasional bagi seseorang, untuk menilai dirinya lebih baik daripada orang lain.


SABTU 27 Maret 2021.

© Tulisan telah diolah. Untuk sumbernya, Klik di Sini.

Follow on Twitter: Habib Zen @KitabHikam

Walloohul muwaafiq ilaa aqwaamith thoriq….


Idrisefendy

Palopo-March 28th, 2021.