H U K A M A

Bebunyian malam kian meliriH
Iringi renungku sehilir mengantiH
Kugolek-golek diri, disengat letiH
Tersebab darma yang tiada membuiH
Kini, tuts-pun kupijit sekadar menyuriH.

Embusan pawana menyapa merdU
Mewarta di sana nelayan berambaU
Pak tani dan sanaknya terkurung kelambU
Juga, para peziarah kerasan berjibakU
Susur denai-denai tanpa mengejujU.

Tilam bak sukar menahanku ariK
Jeluk pikirku kini berpilin-berantuK
Laksana ingin punguti segala yang terseraK
Tik-tok-tek.” Jam dinding memayah detaK
Di ujung gang, pekik si jago berkokoK.

Lembayung merekah di timur cakrawalA
Baskara tak lama lagi belalakkan rupA
Hiruk-pikuk laluan kian dijejal kembarA
Nelayan mulai tengger di labuhannyA
Syahdan, giliran pak tani beranjangsanA.

Anteng saja, kulirik di ruang temaraM
Bola mata berkelit setengah memejaM
Tetiba, secuil bahana di pojokan menghunjaM
Kemari, kekasihku. Kuiring dikau meranuM
Kutatap dia. Tapi dia… aku. Aku… dia. RunyaM.

Jemariku erat di genggam tangannyA
Memapahku ke laut lepas nun jauh di sanA
Menuturiku kisah seorang hukamA
Kekisah paling arkais di daun telingA
“Di sini, kasihku. Ejalah DIRI, berDIRIlah”, bisiknyA.


Idrisefendy

Palopo-March 13rd, 2021


© Ilustrasi: @javanicabooks

Ngalor-ngidul Seputar “Bahasa Tinggi”.

Tak hanya sekali dua saja saya temui —entahkah lewat tulisan atau dialog langsung; via daring, ataupun luring— berbagai kritikan tentang hal ini, yaitu sekaitan “Bahasa Tinggi“. Saya katakan itu sebentuk kritik. Karena, berangkat dari bangunan opini yang disodorkan, itu didasari oleh kerisauan dan kekhawatiran mereka akan hal ini. Lebih lagi, dengan tersirat, mereka menitipkan harapan akan adanya perubahan.

Dengan lebih berani, salah satunya bahkan dengan terang mengatakan bahwa, tengara atau fenomena ini, adalah bagian dari apa yang disebutnya sebagai “Kolonialisasi Bahasa“. Pijak argumennya sendiri, berangkat dari penggunaan unsur “asing” ketika orang-orang berkomunikasi; dari situlah timbulnya tanggapan dari argumenter (orang yang memberi atau melontarkan argumen) tersebut.

Sederhananya, pelontar kritik dan argumen tadi memandang bahwa, ada semacam mentalitas aneh. Itu bisa menyebabkan orang-orang —dari contoh yang diangkatnya sendiri, lebih condong kepada para intelektual— yang bisa merasa lebih bangga dan memukau, dengan menggunakan dan menyelipkan “bahasa tinggi” yang notabene “asing“, dalam proses komunikasi.


Ini bukan perkara sepele. Acapnya, rasa bangga tadi —masih berdasarkan uraian para pelontar argumen tadi— kerap disertai dengan “peminggiran” bahasa keseharian, di lingkungan pelakonnya sendiri (dalam hal ini: bahasa Indonesia). “Kalau sudah ada padanan bahasa Indonesianya sendiri,” katanya, “mengapa harus bangga memakai yang asing-asing?”

Poin yang diangkat, erat dengan sejarah bangsa kita sendiri. Mengapa demikian? Menurutnya, bangsa kita dalam rekam sejarah, cukup tebal catatan kolonialismenya. Masa itu, sistem kasta dan status sosial, menjadi momok tersendiri bagi para inlander (penduduk asli/Pribumi). Terutama jika mereka belum mampu bercakap dengan menggunakan bahasa para kolonialis (asing) tadi.

Mirisnya, ini masih menyisakan endapan di kepala anak bangsa era kiwari ini. Ada semacam anggapan bahwa, dengan menggunakan bahasa asing (bahasa para kolonialis) tadi dalam berkomunikasi, maka serta merta kita bisa “mendongkrak” status sosial kita dan dipandang lebih tinggi dan keren, dibandingkan dengan menggunakan bahasa Indonesia sendiri.


Hematku, ini ada benarnya. Bukannya apa, tapi dari apa yang terjadi, orang-orang cenderung merasa takjub dan silau dengan “yang asing” tadi. Rasa minder namun sekaligus disertai rasa bangga dan takjub akan “yang asing” tadi, diistilahkan minderwaardegheid complex (lebih jelasnya, klik di sini). Contohnya, sekali waktu, saya bersama para santri LEMKA lainnya, mengadakan rihlah atau tamasya sembari belajar di kampung lukis Jelekong, Bandung, Jawa Barat.

Dalam perjalanan ke Jelekong—sebagai salah satu kampung yang sudah terkenal akan seninya di manca negara—sudah barang tentu, banyak bule yang juga bertandang ke sana, yang juga kebetulan kami jumpai. Salah satu kejadian yang menjanggal di pikiranku kala itu, ialah sikap para santri lainnya dengan adanya bule tadi. Animo dari sebahagian mereka seketika melonjak. Barangkali jika bukan karena kendala komunikasi, mereka bakal merengek untuk berswafoto bersama.

Berswafoto, sah-sah saja; termasuk, dengan siapa saja. Masalahnya, apakah ada sesuatu yang sangat spesial dari para bule yang hanya melancong tersebut? Jika ada, sespesial apa? Apakah para maestro lukis yang sedang disambangi kala itu, kurang spesial ketimbang pelancong tadi, sehingga kesan yang timbul adalah, para pelukis tadi, lebih kurang spesial untuk diajak serta berswafoto?

Kasus yang saya udar di atas, memang tidak terkait langsung dengan perkara bahasa, sebagaimana poin utama tulisan ini. Namun, tentu tetap ada pertautan. Pertautannya di mana? Ya, itu tadi, sekaitan sikap atau mental. Itu bisa berupa sikap lebih bangga dengan menggunakan atau menyisipkan bahasa dan istilah asing yang digunakan di ruang publik, ketimbang bahasa kita sendiri, bahasa Indonesia.


Di tulisan ini sendiri, saya mengajak meneroka ulang hal ini. Kritikan-kritikan ini, perlu kita dudukkan. Mengapa? Hematku, prahara ini nampaknya musykil atau sukar “selesai”. Bukankah setiap harinya, orang-orang sentiasa berkomunikasi? Lebih lagi, penggunaan istilah dan bahasa asing oleh seseorang, memang kerap terjadi. Bahkan, sering tanpa disadarinya sendiri. Sehingga orang yang dihadapi, mungkin sukar menangkap apa yang disampaikan.

Sebelum lebih jauh, pertama, barangkali kita harus sepaham dulu terkait lema-lema yang diangkat para kritikus “bahasa tinggi” tadi. Terkait “asing” ini sendiri, bagaimana kriterianya? Apakah semua bahasa selain bahasa Indonesia, termasuk dalam kategori ini? Apa ada yang lain? Bagaimana dan siapa yang menentukan “asing” tidaknya sebuah bahasa? Pertanyaan-pertanyaan ini, perlu untuk kita selami terlebih dahulu. Tujuannya jelas. Agar, kita bisa lebih jernih memandang hal ini.


Menilik KBBI V daring terbitan KEMENDIKBUD, diterakan 5 keterangan, terkait lema “asing” sendiri. Dari itu, kita segera temui bahwa, kata “asing” yang dimaksud di sini ialah: bisa berupa bahasa yang datangnya dari luar (impor). Entahkah itu dari daerah (bahasa daerah), ataupun negara lain. Namun, bisa juga bermakna: jarang atau tidak biasa digunakan khalayak; walakin, telah terinventarisir (tersimpan) di dalam buku kamus bahasanya sendiri, yang dalam hal ini, bahasa Indonesia (KBBI).

Mari kita lihat dua simpulan sementara saya di paragraf sebelumnya, sembari kita dialogkan dengan pertanyaan-pertanyaan pada paragraf sebelumnya lagi. Pertama, “asing” dari segi wilayah (teritori). Sudah menjadi rahasia umum bahwa, bahasa Indonesia sendiri, lahir dan berkembang bukan dengan “mengada” begitu saja. Ada proses panjang yang terjadi. Itu bisa berupa menyerap bahasa lain, dengan mencatut-cocokkan makna di dalamnya. Inilah yang disebut sebagai bahasa serapan.

Jika kita jeli pada apa yang disodorkan kritikus pertama yang kita udar di bagian awal tulisan ini, dengan segera, kita temui kejanggalan. Di mana? Ringkasnya, kritikus ini sendiri melontarkan argumen tentang penggunaan “bahasa asing“, yang menurutnya berkemungkinan “meminggirkan” bahasa asli Indonesia sendiri. Namun anehnya, di sisi lain—mungkin tanpa disadari sendiri olehnya—dia juga sedang melakukan hal serupa.

Hal serupa yang saya katakan ialah, mengapa dia harus memakai diksi “kolonialisasi bahasa”? Bukankah kata “kolonialisasi” ini sendiri, adalah hasil translasi atau serapan (impor) dari bahasa asing—yang menukil dari wikipedia, berakar kata dari bahasa latin? Kenapa harus mengkritik penggunaan “bahasa asing”, namun juga memakai “bahasa asing”? Bukankah dalam bahasa Indonesia, sudah ada kata “penjajah”, yang kurang lebih maknanya sepadan dengan kata “koloni”?

Okelah kalau misalkan anggapannya bahwa, kata “koloni” ini sendiri, sudah diserap di dalam KBBI kita. Mengenai itu, sekarang, saya ingin mengajukan banding. Maksud saya, kalau memang semua kata yang sudah terinventarisir, terserap, atau terbendaharakan dalam KBBI bisa dikatakan sebagai bahasa umum dan tidak masuk kriteria “bahasa tinggi atau asing”, maka saya anggap ini belum tepat. Mengapa demikian? Saya akan mengajak untuk melihat riset kecil-kecilan saya.


Riset yang saya maksudkan ialah, sekali waktu, saya berdiskusi dengan beberapa kawan mahasiswa. Tepatnya, dalam salah satu forum komunitas literasi di kota Palopo, Sulawesi-selatan. Dalam sesi diskusi tersebut, dengan sengaja saya memakai kata-kata seperti: edukatif, reliabilitas, heterogenitas, regresi, repetitif, dll. Respon mereka: “bah, ketinggian kapang bahasa ta, kanda“, sahut mereka, “nda mengerti ki. Bukan ki anak bahasa Inggris.”

Barangkali mereka menganggap bahwa, kata-kata yang saya sodorkan kepada mereka di atas, adalah murni bahasa Inggris. Padahal tidak demikian. Kata-kata tersebut, sedianya memang berasal dari bahasa Inggris, CMIIW. Namun, mereka telah melalui proses translasi yang pada tahap selanjutnya, diserap ke dalam bahasa Indonesia. Buktinya, kata-kata tersebut, bisa kita jumpai di lembar KBBI. Walakin, mungkin ada padanan katanya. Tapi, okelah. Stimulus atau peransang di hari pertama, usai.

Pada temu selanjutnya, dengan misi dan orang yang sama, pun metode yang sama, saya kembali memberi stimulan (ransangan), dengan isi yang berbeda. Kala itu, sengaja saya menelurkan kata-kata seperti: udar, sangkil, mangkus, teroka, senandika, mengaso, sekotah, kiwari, dll. Respon mereka? Kernyitan dahi. Saya anggap itu sebagai pertanda kebingungan serupa temu pertama tadi, walau tidak lagi diungkapkan dengan kata-kata oleh mereka.


Apa yang bisa dipetik dari sini adalah, tidak semua bahasa atau istilah asing itu sendiri, semuanya harus berasal dari luar (daerah atau negara) saja. Bisa juga, asing dengan bahasa sendiri. Ringkasnya, bisa saja orang Indonesia, asing dengan bahasanya sendiri. Hal ini bisa dilihat pada kasus kedua di atas. Kata-kata yang saya cantumkan di atas sebagai stimulan tadi, itu sedianya sudah terangkum rapi di lembar KBBI. Barangkali mereka hanya belum tahu, makanya mereka merasa asing.

Olehnya, jika dikatakan oleh pengkritik “bahasa tinggi” bahwa: penggunaan bahasa asing—dalam tanda kutip, bahasa impor—oleh seseorang, baik kaum inteligensia, ataupun awam ketika ia sedang berkomunikasi, akan menemui garis pemisah (demarkasi) dan ketidak-sepahaman dengan lawan bicara, itu tidak sepenuhnya benar. Faktanya, bahkan menggunakan bahasa Indonesia sendiripun, juga bisa berujung serupa. Hematku, ini hanya berpulang pada aspek kesepahaman antara yang berkomunikasi.


Saya sendiri lebih condong kepada pengkritik “bahasa tinggi” lainnya. Walau mungkin, tidak sepenuhnya sependapat. Dia adalah Yusran Darmawan. Seorang blogger aktif. Beliau termasuk salah satu inspirator saya, untuk belajar dan berproses lewat media blog. Pertama kali menyecap tulisan dan pemikirannya, itu kisaran 2017an. Tulisannya kala itu, kalau tidak salah ingat, terkait aktivis, literasi, dan ruang digital.

Tulisannya yang sesuai bahasan kita kali ini, berjudul “bahasa tinggi” (Klik di sini, untuk membaca). Tulisan ini telah mendapatkan respon beragam dari khalayak pembaca. Padat, lugas, dan renyah. Itu 3 kata yang, bagi saya, menggambarkan tulisan-tulisan beliau. Di dalam tulisannya ini—juga sebagaimana kritikus pertama yang saya angkat pada bagian awal tadi—berangkat dari kerisauan dan kekhawatiran akan prahara ini.

Di dalamnya bisa dijumpai sekelumit persoalan. Baginya, itu menjanggal. Poin per poin, diuliknya lugas dan bernas. Namun ketika saya jumpai kata “virus” yang dipakainya menggambarkan kasusnya, saya sedikit terperanjat. Mengapa demikian? Bagi saya, itu barangkali adalah sebentuk peyorasi; walau mungkin, beliau tidaklah bermaksud begitu. Namun tetap saja, itu tidak menutup kemungkinan adanya orang yang menafsirkan dan berkesimpulan demikian.

Apa itu peyorasi dan bagaimana dampaknya? Ringkasnya, dalam ilmu jurnalistik yang pernah saya dapati, dikatakan bahwa peyorasi adalah: sebuah proses pergeseran makna, untuk menjadi sesuatu yang kurang baik. Kaitan dengan hal ini yang saya maksud adalah, adanya diksi “virus” tadi, yang barang tentu akan berefek pada tahap selanjutnya. Efeknya sejauh mana? Saat ini, saya sendiri masih sebatas menerka-nerka.

Yang jelas, bagi saya, itu adalah sesuatu yang juga harus kita luruskan bersama. Okelah misalkan para kritikus ini, merasa kurang nyaman dengan pemakaian “bahasa tinggi atau asing” tadi, yang dalam tanda kutip: impor-impor. Oke, yang impor-impor kita pisahkan terlebih dahulu. Tapi dari uraian saya di atas, hal ini mungkin bisa kita gambarkan sebagai pedang yang bermata ganda. Apa maksudnya?

Hematku, penggambaran kata “virus” pada “bahasa tinggi atau asing” tadi, adalah sesuatu yang kurang tepat. Lagi pula, itu tentunya juga akan berefek pada kosakata bahasa Indonesia sendiri, sebagaimana yang telah kita saksikan di atas. Saya berpendapat bahwa, bang Yusran Darmawan sendiri, juga memahami hal ini.

Dalam tulisannya tadi, poin utama yang diangkatnya, lebih mengarah kepada sikap sebagian orang yang terkesan nggayani dan berbangga diri dengan perbendaharaan katanya, dan ketika berkomunikasi, kadang mengabaikan aspek kesepahaman. Poin lainnya yang tak kalah menarik ialah, menurutnya, makin tinggi tingkat pemahaman (intelektualitas) seseorang, maka orang itu lebih sederhana dan juga pandai menempatkan diri ketika ia berkomunikasi.


Kali ini, tentang “virus” tadi. Sekali waktu, mungkin kita sedang membaca naskah-naskah lawas dari sastrawan asli Indonesia. Di dalamnya, barangkali kita menemukan kosa kata yang asing bagi kita di masa kini. Mungkin contohnya: niskala, galat, kadung, adiwangsa, kemuncak, dll. Apakah kata-kata itu, bisa tergolong “asing dan tinggi” bagi kita di masa ini? Lebih lagi, dengan “keasingannya” itu, apakah wajar mengatakan itu adalah “virus“? Virus identik dengan penyakit, bukan? Apa harus diberantas? Saya rasa tidak sesederhana itu.

Salah satu literatur yang saya sukai, membahas hal ini dengan gamblang. Literatur yang saya maksud ialah: 1984 karya George Orwell. Di dalam literatur ini, kita diperlihatkan “Politik Bahasa“. Politik bahasa yang tergambar di dalamnya sendiri, ada banyak macam. Di sini, saya hanya akan menukil salah satunya. Yaitu, bagaimana prosesi pemegang otoritas atau kendali tertinggi (negara, misalkan), bisa mengontrol masyarakatnya, dengan cara menyempitkan alam pikir mereka, melalui penyusutan, pemberangusan, dan penyederhanaan kosa kata dan bahasa.

Bagaimana hal ini semua bisa berkaitan? Dijelaskan di dalamnya, negara menekan para pegiat literasi dan perancang kamus untuk memilah, membuang, dan memberangus kata-kata yang menurutnya bisa diwakilkan dengan kata lain. Terutama jika kata-kata itu, memiliki potensi untuk menimbulkan kesadaran masyarakatnya. Jika tetap ada yang memakai “kosa-kata lama” tersebut, mereka akan diberondong dengan berbagai cara. Olehnya, perbendaharaan kata masyarakatnya, lambat laun kian menipis. Akhirnya, kesadaran merekapun turut kempis.


Maka dari itu, kata-kata “asing” yang mungkin belum kita pahami, baiknya tidak serta-merta kita abaikan begitu saja. Wajar saja, sih, jika kita merasa risih saat lawan bicara atau buku yang kita baca, menggelontorkan kata-kata yang asing bagi kita. Tapi, itu bukanlah suatu pembenaran untuk kita abaikan begitu saja, tanpa adanya usaha untuk turut serta mempelajari dan memahami maksudnya. Kalaupun memang asing, ya pelajari dan rawat.

Lagi-lagi saya katakan bahwa, semua hanya berpulang pada kesepahaman orang-orang yang melakukan prosesi berbahasa atau komunikasi. Entahkah itu lewat tulisan, ataupun ujaran. Jadi, ketika kita akan berbincang dengan seseorang, baiknya kita berusaha menakar dan berbahasa sebagaimana apa yang bisa diterima alam pikir lawan bicara kita. Ini bisa menjadi pembelajaran tersendiri bagi kita; terutama bagi saya sendiri.

Lebih dari pada itu, lema-lema atau kata-kata dalam perbendaharaan bahasa indonesia kita, yang mungkin masih kurang familier dan asing bagi khalayak ramai di masa ini, baiknya kita turut serta dalam upaya mempelajari, merawat, merekahkan, dan menggelorakannya kembali.

Kalau kata bang Ivan Lanin (@ivanlanin) sendiri, yang ini juga menjadi motto @BadanBahasa: “Utamakan bahasa Indonesia, lestarikan bahasa daerah, Kuasai bahasa asing“.

Walloohu a’lam bis-showaab.


Idrisefendy

Palopo-March 10th, 2021.


Tulisan terkait:

~ Tetanya Perihal Definisi

~ Perihal Amok Post-truth, Kamus, dan Kutu Loncat.

~ Semi-Monologue


Sumber gambar ilustrasi: @BadanBahasa


Tulisan lainnya:

~ Berpuasa dari Pseudo-Science

~ Hedonku, Hedonmu, Hedon Kita

~ Orwell, Satire, dan Endonesa

~ AGORA: Sebuah Refleksi untuk Indonesia Masa Kini.