BASSE SANGTEMPE, SEUNTAI SEJARAH DALAM PERSPEKTIF WIJA TO OGI.

M.IDRIS (15 02 02 0129)

“Memaknai sejarah adalah sebagaimana kita sedang memanah. Semakin kencang kau menarik anak panah, maka semakin jauh pula anak panah kita akan melesat”.


Demikian ujar salah seorang sahabat senior kepada saya suatu hari dalam perbincangan tentang Sejarah Negara Bangsa yang kerap kali bagi para pengkaji, mencampur adukkan antara orisinalitas atau otentisitas suatu fenomena masa lampau dalam alam realitas dengan heroisme masa kini yang acapkali bertalian langsung dengan identitas peneliti atau pengkaji tersebut. Bahkan hal yang lebih parah menurut sahabat senior saya adalah, kadangkala praktik politisasi sejarah sering kita jumpai.

Hal yang demikian sudah barang tentu akan mencemari orisinalitas sejarah tersebut. Pertanyaan yang akan muncul ialah, sejarah yang bagaimana yang harus kita yakini kebenarannya ? tentu, untuk mencoba membaca realitas sejarah, kita butuh perangkat bantuan atau pihak lain. Lalu, sesiapa yang validitas sejarahnya yang tak perlu diragukan ?.

Kedua pertanyaan yang mendasar tersebut, tentu akan melahirkan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Sejarah, apapun itu kita tidak sedang dan tidak akan berada pada lingkarannya lagi, walau itu sedetik yang lalu. Namun, untuk mengaminkan realitasnya, tentu penelitian ilmiah akannya mutlak dilakukan dengan berbagai pendekatan serta petunjuk yang bisa jadi harus kita ambil dari pihak terkait. Tentunya borkompeten dengan hal tersebut.


Kembali pada argumentasi pembuka, tentu bila kita maknai petikan argumentasi dari sahabat saya tersebut, akan memotifasi kita. Karena, seseorang yang dengan komprehensif mengkaji suatu realitas sejarah masa lampau pada saat ini, maka untuk melangkahkan kaki dihari esok, ia akan lebih bijak dan adil. Yaitu menempatkan sesuatu sesuai tempatnya serta sadar proporsi sesuatu itu sendiri. Terlepas daripada itu, ada begitu banyak “sejarah” yang harus kita kaji bersama. Bukankah Bung Karno pernah mengatakan, JAS MERAH, jangan sekali-kali engkau melupakan sejarah…!!!


Basse Sangtempe, sebuah wilayah pegunungan yang berada pada bagian selatan jazirah Sulawesi. Adapun tentang penghuni, dihuni oleh etnis Luwu. Karena memang, Basse Sangtempe ini tergabung dalam territorial Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan. Dalam berbagai literatur yang sempat penulis cicipi, penulis dapat menyimpulkan bahwa, aura kesejarahan Basse Sangtempe sangat memikat dan penuh teka-teki.

Terpicu, dengan rasa penasaran mendera, penulis pada beberapa waktu meluangkan waktu untuk mengeja Sejarah BASTEM ini melalui perbincangan dengan para warga asli BASTEM sembari searching via internet. Lalu, disinilah kisah BASTEM dan INVASI BUGIS-MAKASSAR itu bermula.


Dalam salah satu literatur kuno, yaitu “Leviathan” karya Thomas Hobbes, menyatakan bahwa manusia itu memiliki kecenderungan untuk memangsa manusia lainnya yang terlihat lebih lemah dibanding dengannya, sama seperti serigala. Hal ini pulalah yang mungkin terpentaskan dalam opera sejarah masa awal Basse Sangtempe. Mengapa demikian ?, Karena pada masa itu, Karaeng Dongi (Bugis-Makassar) beserta rombongannya yang melalui beberapa jalur hingga sampailah mereka di salah satu daerah di BASTEM dan mendirikan pondok.

Katongngo, daerah yang menjadi daerah Karaeng Dongi dan rombongan tiba ini telah berpenduduk, pun dengan beberapa daerah sekitarnya. Olehnya, prosesi penyesuaian harus dilakukan jika ingin rukun. Namun menurut penuturan cerita ini oleh berbagai pihak, termasuk warga BASTEM pada umumnya menyatakan bahwa, para pendatang tadi (Karaeng Dongi) adalah orang-orang yang sangat rakus nan licik. Mereka datang untuk ‘’berkuasa’’ pada daerah yang telah berpenghuni dan berbudaya.

Taktik serta strategi busuk diterapkan oleh Karaeng Dongi untuk berkuasa. Pada mulanya, mereka tak lantas untuk melakukan perang fisik, tapi dengan melukai jati diri warga setempat. Tentu tidak semua, tapi dengan memilah salah seorang atau beberapa dari mereka yang paling ditokohkan oleh masyarakat. Yang dalam hal ini adalah tokoh adat setempat, yaitu Pegandaan yang menjadi incaran pertama proyek licik ini. Adapun proyek licik yang dimaksud adalah, suatu waktu ketika tanaman padi dan jagung milik pegandaan yang telah masuk pada tahap panen, Karaeng Dongi beserta rombongan dengan sengaja membabat semak-semak sekitar kebun milik Pegandaan untuk selanjutnya ia bakar. Kebakaran, itulah yang terjadi dengan lahan kebun beserta isi milik Pegandaan. Tentu hal ini menjadi luka mendalam bagi warga asli setempat.

Lebih lanjut, Karaeng Dongi yang telah membakar lahan dan mengakuisisi sebagai lahannya sendiri tersebut menanaminya dengan tanaman serupa sebelumnya milik Pegandaan. Pegandaan serta para korban yang lain kini dalam masa sulit. Pasalnya, gagal panen massal baru saja mereka alami. Olehnya, mereka melepaskan ayam-ayam ternak mereka untuk mencari makan sendiri, karena persediaan pakan pun menipis.

Kelicikan berlanjut, Karaeng Dongi beserta rombongan menangkapi ayam-ayam tersebut dan memutilasi bagian tertentu unggas tersebut lalu dilepas kembali. Hal inilah yang memicu perang antara warga pendatang (rombongan Karaen Dongi) dengan warga asli setempat. Perang ini sendiri berakhir dengan kekalahan warga setempat yang saat itu dipimpin oleh Pegandaan.

Dengan kekalahan berat yang diderita, Pegandaan beserta rombongan pun melarikan diri ke Sa’dan, daerah yang kini dikenal dengan nama Toraja. Tahun-tahun pelik dijalani, mereka harus kembali membangun didaerah barunya. Sementara diseberang sana, para pendatang menginvasi tanah kelahirannya sendiri. Bulan beraulam tahun pun beralu, timbullah hasrat mereka untuk kembali ke tanah kelahiran mereka.

Taktik strategi tentu dibahas lebih dahulu. Singkat cerita, rombongan Pegandaan beserta pasukan dari menantunya yang berbasis didaerah Noling, pada akhirnya bisa memenangkan pertempuran sengit dengan musuh bebuyutnya, yaitu Karaeng Dongi serta keturunannya yang telah sedikit banyak berkontribusi membangun peradaban baru di tanah kelahiran mereka. Menurut beberapa sumber, sebelum invasi Karaeng Dongi di Basse Sangtempe ini, belum ada sistem tata negara yang diterapkan. Datanglah Karaeng Dongi dengan sistem tata negara yang canggih pada zamannya yang nantinya diadopsi oleh para generasi pelanjut di Basse Sangtempe.

Berdasarkan salah satu sumber yang menyatakan bahwa, pasukan Pegandaan dan menantunya (Langkai) yang bertempur habis-habisan, bisa memojokkan pasukan Karaeng Dongi hingga mengurungnya di sebuah gua pada suatu perbukitan yang berdampingan langsung dengan mata air yang melimpah. Tak sampai disitu saja, setelah mengurung Karaeng Dongi beserta keluarga dan pasukannya, sumber mata air itu mereka boikot dan membiarkan satu persatu pasukan Karaeng Dongi mati kehausan. Maka, disaat itulah muncul sebuah istilah ‘’mappesa’dingko to buta, ma’petiroko to taru’’. Istilah tersebut bermakna, yang buta disuruh berjaga-jaga dengan pendengarannya, yang tuli disuruh berjaga-jaga dengan mata penglihatannya. Sungguh suatu keterpojokan dan ketersiksaan yang teramat. Dalam situasi tersebut, Karaeng Dongi besumpah serapah. Bahwa, ia dan rombongan pantang pulang serta pantang mundur, dan suatu saat nanti ia akan bangkit dan kembali berjaya.

Seusai perang yang dimenangkan oleh Pegandaan serta menantunya ini, maka Pegandaan pun mendirikan rumah pertama atau Batu Ariri di yang bertempat di Ma’buntu Batunna, sebuah daerah yang sangat tinggi sehingga diberi nama Buntu Batu. Karaeng Dongi, namanya hampir tak diketahui oleh pemuda BASTEM saat ini. Ia terbilang cukup berjasa dalam tatanan kehidupan masyarakat BASTEM yang olehnya lah diperkenalkan system ketatanegaraan, yang pada masa lalu BASTEM belum demikian. Terlepas dari hal itu, ia tetap dinilai licik dan meninggalkan dosa sejarah dengan apa yang telah dilakukannya. Namun bila ingin kita kaji tentang asal muasal kedatangannya menginvasi daerah lain, barangkali akan kita temui pertaliannya dengan kolonialisme eropa ataukah kolonialisme sesama kerajaan purba seantero sulawesi yang bisa jadi masa itu terjadi, ataukah ada sebab lain. Karena pada beberapa catatan sejarah mengatakan bahwa, suatu daerah berpenghuni yang didatangi tamu dan mengagresi wilayah tersebut, maka penduduk asli itu akan berhadapan dengan tiga pilihan: membaur, melawan, dan menghindar mencari daerah lain. Barangkali pilihan ketiga ini yang terjadi pada diri Karaeng Dongi dan Pegandaan.


Demikian, cerita singkat yang bagi penulis pribadi, sarat akan makna. Tentu t(b)ergantung sudut pandang kita melihat hal ini. Bagi penulis pribadi yang notabenenya adalah keturunan Bugis Wajo asli, yang sempat menjalani prosesi Penelitian dan Pengabdian (PPL TERINTEGRASI KKN) pada daerah tersebut (BASTEM), ada beberapa kejadian yang cukup membekas diingatan. Salah satunya adalah respon masyarakat yang variatif saat mengetahui asal-usul daerah kelahiran penulis. Mengapa demikian ? barangkali hal ini bertalian dengan kisah yang telah saya paparkan tadi, tentang invasi Bugis-Makassar masa silam. Serta berbagai kemungkinan lainnya.


Berangkat dari hal ini pulalah, penulisan ini bermula. Tentang bagaimana perbedaan suku, ras, golongan, dan agama yang kerapkali membelenggu kita satu sama lain. Tentang sejarah yang kadang dikaji dengan tidak kohesif dan koherensif serta kompetensi penyampai yang kadang dipertanyakan. Tentu, ini bukan argument yang menandakan ketidakpercayaan total saya pada sumber informasi tentang kisah atau sejarah masa silam tadi, ini bisa sebagai warning kepada para pemenggal sejarah, sekaligus warning kepada pengkaji sejarah. Termasuk kepada saya sendiri, untuk tidak latah dalam memandang suatu perkara seksi seperti SARA ini.

Bukankah perbedaan itu memang sunnatullah, menolaknya berarti telah menodai hak cipta Tuhan. Termasuk sejarah, kadang ditemukan perbedaan dalam memahaminya. Tergantung sumber dan kepentingan dari subjek nya. Sebuah adagium yang pertamakali dilontarkan oleh Winston Churcill menyatakan bahwa sejarah adalah milik pemenang (history has been written by the victors). Senada dengan itu, Dan Brown mengatakan bahwa sejarah hanya ditulis oleh para pemenang (History is always written by the winners). Olehnya, pendekatan dari berbagai sisi perlu direalisasikan.

Berbeda-beda tapi tetap satu jua, itulah Indonesia dengan semboyannya, BHINNEKA TUNGGAL IKA. Olehnya, kita sebagai pilar nusantara perlu mendobrak budaya latah perbedaan yang kadang membelenggu ini. Sebagai penutup, saya mengutip salah satu petikan kata-kata dari salah seorang sahabat saya, yang menyatakan :

“Kita punya budaya untuk takut akan perbedaan. Kita tidak suka orang lain menjadi berbeda. Kita mau semua orang mejadi sama dan mengatakan apa yang kita inginkan. Seolah kita hidup pada masyarakat homogen. Dimana semua orang suka dikelompokkan menjadi satu”. (Muh. Satrio Natsir).


Wallaahul muwaafieq ilaa aqwaamit thorieq…


Palopo, 28 01 2019

Idrisefendy.


Repost from :

My other blog…. (((https://posko2bassesangtempe.com))).


Keterangan gambar :

Buku karangan sahabat-sahabat P2L (Posko 2 Lissaga) PPL TERINTEGRASI KKN 2018/19 BASTEM, disadur dan dikompilasikan dalam dua Buku karya bersama.


PBNU sudah Syar’i, lalu mengapa harus NKRI ber (label) syariah…?

Sekiranya kita luangkan waktu sejenak untuk kembali membuka lembar sejarah, maka akan kita temui suatu problematika yang setali tiga uang, serupa dengan konteks masa kini. Problematika yang saya maksudkan ialah, kembali bergeloranya suatu gagasan pra bahkan pasca kemerdekaan Republik Indonesia. Lebih tepatnya, gagasan NKRI bersyariah yang pada beberapa waktu lalu, digaungkan kembali oleh beberapa tokoh yang disinyalir kuat berserikat dengan aktor-aktor lain dalam nuansa politis.

Beberapa kalangan memandang bahwa, prahara yang demikian ini bakal awet bin alot. Utamanya saat-saat ini, yang mana kontestasi politik nasional sedang dalam momentum sedapnya. Tak lupa, bumbu-bumbu penyedap (red. Hoax) juga terus ber(di)tebar(k)an sana-sini beserta gonjang-ganjingnya. Politik insinuasi seakan telah lumrah kita temui; Perang tagar (tanda pagar #), apalagi.


Kemungkinan viv a vis antara pihak negarawan atau pancasilais dengan pihak religius fundamentalis yang “syariah-oriented (?)” akan terus menggulirkan sesuatu yang pada dasarnya telah selesai. Opera lama yang kadang dipentaspaksakan.

Pihak pertama yang disebutkan diatas adalah, mereka yang tetap bersikukuh menolak untuk berdirinya negara dengan label syariah (formalisasi). Atau lebih tepatnya, menolak integrasi Islam dengan penerapannya dalam bernegara. Dengan demikian, kelompok pertama menolak penerapan syariah secara formalistik dalam negara kesatuan kita.

Sudah barang tentu, pihak pertama ini memiliki kuda-kuda sebagai alas pemikiran sendiri terkait pandangannya. Pandangan demikian ini, bertalian erat dengan ke-Bhinneka-an dan telah melalui proses yang tidak sebentar. Kristalisasi konsep pemikiran yang terkonstruk untuk mencapai kemaslahatan antar seluruh elemen bangsa.

Adapun pihak lainnya, atau kelompok yang kedua, adalah mereka yang menuntut amalgamasi atau penerapan “utuh” Islam ke dalam negara serta kekuasaan politik. Suatu hal yang memungkinkan penerapan syariah secara resmi dan menyeluruh (syumul). Dalam artian, mereka berpandangan bahwa dengan penerapan hal tersebut, semua problematika kedepannya bisa diatasi dengan apa yang mereka sebut “Khilafah“. Suatu kepemimpinan islam yang “katanya” berdasarkan syariah.

Pola hubungan seperti yang dimaksudkan oleh kelompok kedua ini, memungkinkan penerapan syariah lewat otoritas negara. Karena anggapan mereka bahwa, penerapan syariah (formalisasi) merupakan cara yang paling efektif untuk pemecahan berbagai masalah yang dihadapi oleh negara serta warganya. Pun demikian dengan penerapannya, akan kurang efektif bila hajat mereka tak dinaungi oleh otoritas negara.


Sebagaimana kita pahami bersama bahwa, Pancasila merupakan salah satu dari empat pilar bangsa kita. Adapun tiga yang lainnya ialah : Bhinneka Tunggal Ika, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan UUD 1945. Keempatnya merupakan Soko Guru atau tiang penyangga bangsa dan Negara kita, Indonesia. PBNU, demikian akronimi soko guru kita.

Disebut sebagai Soko Guru atau Pilar kebangsaan, karena ia merupakan sistem keyakinan (belief system) atau filosofi (philosophische grondslag) yang isinya berupa konsep, prinsip, serta nilai yang dianut oleh Negara Bangsa kita. Pada wilayah praksisnya, PBNU digunakan sebagai landasan atau pedoman hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara demi terwujudnya ketertiban, keamanan, ketentraman, keadilan, dan kesejahteraan antar seluruh elemen Negara.

Adalah Taufiq Kiemas, ketua MPR RI sejak 2009 sebagai pencetus istilah Empat Pilar ini. Pasca rapat konsolidasi yang juga alot, maka diputuskanlah upaya sosialisasi Soko Guru ini. Walau pada tahap selanjutnya, Empat Pilar ini sendiri menuai kritik keras dari berbagai kalangan. Salah satu kritikan yang berkepanjangan ialah adanya kalangan yang memandang bahwa, penyejajaran antara Pancasila dengan pilar lainnya, akan meredukusi Pancasila sebagai dasar utama bangsa kita dan memiliki nilai lebih ketimbang yang lainnya.

Terlepas daripada hal itu, sudah sepatutnyalah Pilar Kebangsaan ini harus diinternalisasi oleh seluruh elemen warga negara. Karena bila tidak demikian adanya, maka rongrongan eksternal, bahkan dari internal sendiri sewaktu-waktu bisa saja menghampiri. Sosialisasi dan edukasi sedini mungkin perlu diterapkan, agar proses internalisasi bisa lebih baik.

Namun, bila kita berangkat dari uraian pada awal tulisan ini, terkait adanya suatu dinamika pembahasan yang menyasar kepada Soko Guru ini, akan mencuat beberapa pertanyaan. Pertanyaan yang paling mendasar ialah, benarkah Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan berdasarkan Soko Guru (PBNU) ini belum syar’i ?.

Untuk menjawab hal ini, seyogyanya kita membuka lembar sejarah pergulatan pemikiran para founding fathers, para Ulama, dan juga para cendekiawan. Mereka berembug dalam upaya membincang dan mengkristalisasi dasar negara pada zaman dahulu.


1. PANCASILA

Dalam sejarah Indonesia sendiri, telah tertorehkan beberapa kali perumusan dan pelegalisasian Pancasila sebagai dasar negara kita. Adapun rumusan pertama ialah, yang acapkali kita dengar saat-saat ini lagi, yaitu rumusan “Piagam Jakarta” (22 juni 1945). Pada sila pertamanya, berbunyi : “Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat islam bagi pemeluk-pemeluknya”.

Rumusan kedua, yaitu rumusan pembukaan UUD 1945 (18 agustus 1945). Setelah diadakan permusyawaratan yang alot. Hal yang mendasari ialah terkait adanya pengajuan delegasi para tokoh dari Indonesia timur yang mengajukan penolakan atas sila pertama pada rumusan pertama. Mereka bahkan mengancam memisahkan diri bila tidak ditanggapi terkait protes akan sila pertama yang mereka nilai tak sejalan dengan heterogenitas (keberagaman) Indonesia. Pada akhirnya, disepakati sila pertama Pancasila yang berbunyi: “Ketuhanan Yang Maha Esa”.

Rumusan ketiga, rumusan versi Konstitusi Republik Indonesia Serikat (RIS) yang mulai diberlakukan pada 27 desember 1949 dan juga rumusan serupa pada perumusan tahun selanjutnya Adapun isinya yaitu :
1). Ketuhanan yang Maha Esa.
2). Perikemanusiaan.
3). Kebangsaan.
4). Kerakyatan.
5). Keadilan Sosial.

Rumusan terakhir (sebagaimana saat ini), yaitu rumusan yang ditetapkan pada 5 juli 1959. Sukarno sebagai presiden kala itu mengeluarkan dekrit tentang dasar negara ini berdasarkan permusyawaratan panjang sebelumnya. Adapun tentang isi, ialah serupa dengan apa yang telah ditetapkan pada perumusan Pancasila yang kedua (khususnya sila pertama); lebih tepatnya ialah rumusan yang ditetapkan pada 18 agustus 1945.

Namun yang menjadi berbeda ialah, adanya suatu penegasan dari bung Karno yang menyatakan bahwa “Piagam Jakarta tertanggal 22 Juni 1945 menjiwai dan merupakan suatu rangkaian kesatuan dengan konstitusi tersebut.” Artinya, dekrit tersebut menunjukkan bahwa, hal yang termaktub dalam “Piagam Jakarta” maupun yang sesudahnya telah tersublimasi atau terintegrasi pada rumusan Pancasila sebagaimana saat ini kita jadikan pedoman.

Dari uraian terkait kristalisasi rumusan Pancasila tersebut, dapatlah ditarik benang merah. Bahwa, Pancasila sebagai dasar negara, telah menginternalisasi atau memanifestasi syariat islam. Bahkan lebih jauh daripada itu, seluruh elemen (agama, budaya, suku, dll) telah terangkul jua ke dalamnya. Bukankah yang terbaik adalah yang Rahmatan lil ‘Aalamin, rahmat untuk semua; begitu pulalah Pancasila adanya.


2. BHINNEKA TUNGGAL IKA

Terkait bunyi lengkap dari ungkapan atau semboyan negara kita, yaitu Bhinneka Tunggal Ika, bersumber dari Kitab Sutasoma yang ditulls oleh seorang pujangga dan cendekiawan nusantara kuno yang bernama Mpu Tantular pada abad XIV M, dimasa Kerajaan Majapahit pada masa pemerintahan Raja Hayamwuruk (1350-1389).

Dalam kitab tersebut, Mpu Tantular menulls “Rwaneka dhatu winuwus Buddha Wiswa, Bhinněki rakwa ring apan kena parwanosen Mangka ng Jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal, Bhinněka tunggal Ika tan hana dharma mangrwa”.

Kurang lebih berarti, “Bahwa agama Buddha dan Siwa (Hindu) merupakan zat yang berbeda, tetapi nilal-nilal kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa adalah tunggal. Terpecah belah, tetapi satu jua, artinya tak ada dharma yang mendua“.
Pada masa itu, rakyat kerajaan Majapahit hidup rukun dengan berpegang pada prinsip Bhineka Tunggal Ika. Seperti diketahui, rakyat Majapahit menganut berbagai kepercayaan yang berbeda, namun memiliki perekat yang amat ampuh. Ialah Bhinneka Tunggal ika.

Secara lebih sederhana, Bhineka Tunggal Ika memiliki arti “walau berbeda-beda namun tetap satu jua”. Semboyan ini merupakan semboyan negara Indonesia yang dalam sejarahnya, kembali digaungkan oleh beberapa tokoh; antara lain, Ir. Soekarno, I Gusti Bagus Sugriwa, dan Mohammad Yamin dalam sebuah pembicaraan terbatas dalam rapat BPUPKI, sekitar dua bulan lebih pra proklamasi.

Sudah barang tentu, para Founding Fathers kita telah dengan matang dalam memandang, menimbang, dan mengkristlisasi segala konsep Negara Bangsa kita; salah satunya semboyan negara kita ini. Sebuah negara yang heterogenitasnya begitu luar biasa, namun tetap rekat dalam naungan ke-Bhinneka-an; semoga.

Oleh karena itu, dengan sederhana dapat kita artikan bahwa, tujuan dari dibuatnya semboyan ini adalah untuk mencegah perpecahan dikalangan masyarakat. Meskipun mereka beda suku, budaya, dan menganut kepercayaan atau agama yang berbeda, namun mereka tetap sama dalam satu pengabdian.

Lebih jauh, secara prinsipil dapat kita artikan bahwa semboyan negara kita ini adalah manifestasi dari fitrah sang Khaliq, bukankah dalam salah satu firman-Nya dikatakan bahwasanya kita memang dicipta dengan sengaja sebagai individu, suku, bangsa, hingga segalanya dalam keberbedaan dalam upaya saling “mengenal” satu sama lain.

Hal ini dapat menghantarkan kita pada sebuah konklusi, bahwa semboyan negara kita, yang sebagai salah satu pilar negara tidaklah “melenceng” sama sekali dari syariat sebagaimana yang dituduhkan.


3. NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA

Berdasarkan rentetan panjang Sejarah Negara Bangsa Indonesia yang telah melalui berbagai fase yang begitu dinamis; mulai dari fase kerajaan-kerajaan asli nusantara, feodalisme, kolonialisme, hingga fase perjuangan panjang dalam upaya merebut kemerdekaan yang bahkan menumbalkan dan mengorbankan moral dan materil yang tidak sedikit, dapat kita petik berbagai pelajaran untuk perjalanan bangsa dan negara kedepannya.

Salah satu yang paling menohok ialah, bila rasa persatuan antar elemen bangsa rapuh, akan dengan mudah melegitimasi apa yang disebut sebagai devide et impera (politik pecah belah) yang bahkan bisa berujung pada Balkanisasi. Suatu hal yang akan menyegregasi dan melunturkan semangat nasionalisme, bahkan bisa berujung pada robohnya Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta kita.

Tentu dalam pemilihan sistem ketatanegaraan kita yang barangkali berbeda dari negara-negara tetangga, merupakan suatu langkah tepat dan ampuh yang telah dirumuskan matang oleh para founding fathers kita dalam upaya membendung hal yang telah dipaparkan diatas. Sudah barang tentu hal itu bisa tercapai sekiranya semangat Nasionalisme ini senantiasa terimplementasi dalam laku hidup seluruh elemen bangsa kita. Hal itu pulalah yang mendasari dipilihnya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dalam Pembukaan Undang Undang Dasar 1945 alinea keempat, dijelaskan bahwa, “Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial”...dst.

Dari sini dapat kita tarik benang merahnya bahwa secara sublimatif, NKRI dengan apa yang ingin dicapai, mengupayakan apa yang disebut sebagai Al-Kulliyatul Khomz. Hal itu sudah barang tentu mengindikasikan betapa Syar’i sistem ketatanegaraan kita.


4. UUD 1945

Kelanjutan daripada pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 alinea keempat pada pembahasan diatas, “…maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia”. Atas dasar ini, dapat kita tarik suatu konklusi bahwa, negara kita yang Constitutional State (negara konstitusional) berlandaskan Pancasila sebagai sumber derivasinya tak bisa dipungkiri akan persoalan meng(ke)hadir(k)an unsur Syar’i.

Menurut Nurcholis Madjid (Islam, Kemodernan dan Keindonesiaan, 2003), “Perumusan nilai-nilai Pancasila saja, tampak hadir unsur-unsur Islam melalui konsep-konsep tentang adil, adab, rakyat, hikmat, musyawarah, dan wakil. Dari contoh yang diambil dari rumusan dasar negara ini dan dari berbagai kata pinjaman dari bahasa Arab lainnya, dapat diketahui bahwa unsur-unsur Islam terpenting dalam budaya Indonesia ialah di bidang konsep-konsep sosial dan politik. Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila seperti ketuhanan, kemanusiaan, persatuan (kebangsaan), musyawarah dan keadilan sosial adalah nilai-nilai yang diajarkan dan dijunjung tinggi oleh Islam.”


Berangkat dari pembahasan diatas, sudah barang tentu dapat kita tarik suatu konklusi (simpulan) bahwa, PBNU (Pancasila – Bhinneka Tunggal Ika – NKRI – UUD 1945) telah memenuhi unsur Syar’i. Walau memang secara label tidak menerakannya secara konstitusional. Akan tetapi, secara Substansial, telah amat Syar’i.

Menarik untuk kita cermati secara seksama, sebuah uraian tulisan dari Nurul H. Ma’arif yang berjudul Islam mementingkan Sasaran, bukan Sarana. Tulisan beliau ini sendiri dalam rangka merespon tulisan dari Denny J.A dengan judul NKRI bersyariah atau ruang publik yang manusiawi (desember 2018). Sebuah tulisan berseri yang menguraikan persoalan kontemporer Indonesia. Berikut petikan ulasan Nurul H. Ma’arif.

“…Dalam karyanya, Kaif Nata’amal ma’a al-Sunnah al-Nabawiyyah (1990), Yusuf al-Qardhawi menyatakan, dalam ajaran Islam, ada dua hal yang sangat penting dipahami, yakni sasaran dan sarana. Sasaran itu substansi ajaran Islam yang mesti digapai, sedangkan sarana itu alat untuk menggapainya. Sasaran sifatnya ajeg atau tidak berubah (ats-tsabit), sementara sarana sifatnya tidak ajeg atau berubah (al-mutaghayyir). Dimanapun dan kapanpun, sasaran akan tetap stagnan, sedangkan sarana senantiasa menyesuaikan zaman wal makan (situasi dan tempat).

Sayangnya, umat Islam hari ini banyak yang terkecoh, tidak mau tahu atau bahkan memang tidak tahu, mana yang sasaran dan mana yang sarana. Yang terjadi, akhirnya, sarana menjadi orientasi yang tiada henti dikejar, sementara sasaran lantas diabaikan. Yang dikedepankan hal-hal teknis formalitas, sedangkan yang substansial dinafikan. Padahal jelas, Islam mengutamakan Ruh as-Syari’ah atau jiwa ajaran atau substansi, bukan bentuk formalnya…”.

Lebih lanjut, bila ingin kita bedah secara ketatabahasaan (etimologis) yang juga berangkat dari uraian diatas, maka bisa disimpulkan bahwa, pengatributan sebuah pengertian kepada suatu subyek tanpa menambah makna sama saja bermain-main dengan kata, seperti istilah “Tempe berkacang kedelai.” Faktanya, tempe memang mengandung kacang kedelai, bahkan terbuat dari kedelai; tidak ada tempe tanpa kedelai. Sama halnya dengan istilah NKRI Bersyariah yang tidak menambah makna apa-apa karena Islam yang didalamnya mengandung Syariah, telah terintegrasi dengan NKRI. (Husain Heriyanto, Istilah NKRI Bersyariah Adalah Sesat Nalar Dan Distorsi Islam).

Pada akhir tulisan ini, penulis hanya ingin mengutip argumentasi dari seorang Guru Bangsa, GUS DUR. “Syariat Islam itu diadakan untuk dilaksanakan. Tapi melaksanakan syariat itu tidak harus dengan adanya negara Islam”.

Wallaahul Muwaafieq Ilaa Aqwaamith Thorieq.


Idrisefendy

Palopo, 09 Maret 19.


Referensi :

-Materi Sosialisasi Empat Pilar – MPR RI – 2017.

-Pendidikan Kewarganegaraan Bingkai NKRI – W.P. Putra S, S.H., M.Kn. dan R. Rauf, S.E., M.M. – 2016.

http://www.nu.or.id/post/read/8764/gus-dur-syariat-islam-tak-perlu-negara-islam

https://salamadian.com/empat-4-pilar-kebangsaan/

academia.edu/4.pilar

seri renungan singkat seputar isu pilpres 2019 – Denny J.A

istilah nkri syariah adalah sesat nalar dan distorsi islam – husain heriyanto


Seboeah Lagoe Daerah Oentoek Pendidikan Dan Boedaya Kita.

ᨕᨒᨆ ᨔᨙᨕ ᨔᨙᨕ ᨆᨘᨕ

ᨈᨕᨘ ᨊ ᨕᨚᨇᨚᨑᨗ ᨔᨛᨔᨛ ᨀᨒᨙ

ᨊᨔᨅ ᨑᨗ ᨓᨛᨈᨘ ᨅᨕᨙᨌᨘ ᨊ

ᨉᨙ ᨆᨙᨆᨛ ᨊ ᨕᨛᨃ ᨊ ᨁᨘᨑᨘ

ᨅᨕᨙᨌᨘᨈ ᨆᨗᨈᨘ ᨊ ᨓᨛᨉᨗ ᨔᨗᨔᨛ

ᨊᨑᨙᨀᨚ ᨅᨈᨚᨓᨊᨗ ᨆᨔᨘᨔᨊᨗ

ᨊᨔᨅ ᨆᨑᨍ ᨊᨓᨊᨓ ᨊᨗ

ᨕᨛᨋᨛᨂᨙ ᨄᨚᨒᨙ ᨈᨚᨊᨗ ᨀᨘᨈᨘ ᨕᨙ ᨞


Alamaa seasea mua

Tau naa ompoori sesse’ kalee

Nasabaa riwettuu baeccuu’na

De’ memeng na engka na guruu

Baeccuu’ta mi tu na weddis siseng

Narekko battoani masussani

Nasaba maraja nawanawa ni

Enrenge pole toni kuttue .


(Sumber gambar : pribadi)


Alangkah sia-sianya

Hidup manusia yang dilanda penyesalan

Karena di masa kecilnya

Tidak pernah belajar

Waktu kecillah belajar itu diperlukan

Kalau sudah besar, akan susah

Karena sudah banyak yang dipikirkan

Dan kemalasan juga menghampiri.


BAGI penulis secara pribadi, lagu ini sungguh sangat berkesan dan sukar untuk dilupakan. Tapi ini bukan tentang mantan yah. Alasan pertama, karena lagu ini sendiri merupakan lagu wajib (sunnah lah kalo tidak ingin berlebihan) kala ibu-ibu sedang akan meninabobokan jagoannya didaerah asal penulis. Sungguh para orang tua yang begitu peduli untuk memberikan pappaseng (nasihat) dengan cara yang kreatif sedini mungkin kepada sang terkasih.

Alasan kedua, lagu ini pernah menyelamatkan (harga diri) penulis dari hukuman sang dewa pendidikan (bagi pribadi penulis). Ia adalah salah seorang guru yang oleh penulis, begitu menaruh hormat padanya. Suatu waktu saat penulis masih berseragam merah putih (ESDEH), Guru penampuh mata pelajaran Kesenian dan Budaya juga pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, memberikan kedjoetan pada kami sekelas. Kejutan yang berupa menyanyikan lagu wajib nasional dan lagu daerah.

Terpilihlah Bagimu Negeri dan lagu wejangan bugis tadi. Lagu daerah yang sampai hari ini, penulis belum mengetahui asal muasal, pengarang, dan bahkan judul lagu tersebut. Selamat dari marabahaya hukuman moril berupa ejekan teman sebangku dan teman kelas lainnya, berkat lagu daerah yang jaman now dan jaman future, akan jarang terdengar lagi.

Sederet tanya yang perlu untuk kita renungkan bersama tentang hal tadi. Bukankah mata pelajaran di sekolah-sekolah serupa tadi (pendidikan budaya atau kearifan lokal dan sejenis), telah menjadi asing untuk saat-saat ini ? Bukankah budaya luar (red. Western) terlihat lebih ashiquee ? Sampai kapan perdebatan tentang vis a vis agama dan budaya kian alot, meluber, bahkan mengaburkan esensi salah satu atau bahkan keduanya ? Serta pertanyaan-pertanyaan sejenis yang memperkosa pikiran penulis yang belum sempat termuat lewat tulisan ini.


Untuk pertanyaan pertama sendiri, bila kita telisik perkembangan pendidikan saat-saat ini, acapkali para pemerhati pendidikan dan kebudayaan harus mengelus dada. Barangkali, regulasi atau aturan pada pihak terkait (kebijakan sekolah / kampus) yang melingkupi akannya, sehingga mempersempit ruang dan panggung untuk tetap lestarinya budaya dan kearifan lokal yang teredukasikan dini lewat lembaga pendidikan (sekolah / kampus). Ataukah ada sebab lain, ferguso ?.

Lembaga pendidikan formal, sepatutnya terlibat proactive dalam upaya menjawab pertanyaan pertama sekaligus pertanyaan kedua diatas tadi. Penanaman nilai kearifan lokal sedini mungkin adalah jawaban atas maraknya fenomena masa kini. Fenomena yang dimaksud ialah, berseliweran kasus yang mengindikasikan bahwa, anak bangsa yang berbudaya namun tak mengenal budayanya sendiri. Mengenal saja belum jaminan akan terejawantah dalam laku keseharian, apatahlagi bila tidak. Iya kan ?. Juga, telah menjamurnya budaya yang kurang sesuai dengan norma, etika, dan nilai yang dipahami, dipegang, dan diberlakukan.

Contoh kasus terhangat akan hal ini ialah, beberapa waktu lalu dibeberapa daerah, terjadi tragedi pendidikan. Beredar video amatir, seorang siswa ESEMPE yang menantang kelahi sang guru yang menegur siswa tersebut untuk tidak merokok didalam ruang kelas. Belum beranjak dari beranda ingatan; di daerah Takalar, Sulawesi-Selatan tragedi pendidikan terjadi lagi. Beberapa siswa yang mengeroyok seorang civitas akademik yang berangkat dari hal sepele. Lebih mirisnya, para orang tua siswa juga terlibat, seakan merestui hal tadi.

Santer saja, hal ini menjadi perbincangan hangat disemua kalangan. Menambah file bervirus di draft tragedi pendidikan di Negeri berflower, ENDONESA. Keterlibatan semua pihak, mutlak untuk menangkal problema semacam ini. Namun, terlihat kita semua (mayoritas ?) sedang lebih gandrung akan hal lain. Sebut saja, XPRET dan XBONG. Kembali abai akan pendidikan dan masa depan kelestarian budaya kearifan lokal kita.

Dulu, “andjing bergonggong, kafilah berlaloe”. Sekarang “Drama ke(pem)bodohan bersambung, terserah loe”. Sungguh negeri berflower maha ashiquee.

Berangkat dari hal tadi, sekiranya perlu peninjauan ulang akan upaya pelestarian budaya dan kearifan lokal yang tentu saja bertalian erat dengan Pendidikan Kewarganegaraan ini, fardlu ‘ain untuk dilakukan. Baik itu pada ranah pendidikan formal (sekolah, kampus, institusi, dll), pendidikan informal (keluarga), dan nonformal (lingkungan). Ketiganya bila terbangun sinergitas, akan efektif untuk menjawab tantangan peradaban ini.

Barangkali akan ada yang berpandangan bahwa, upaya-upaya merawat dan melestarikan budaya kearifan lokal adalah upaya pengungkungan diri akan dunia yang berkembang pesat. Tentu pandangan semacam ini adalah pandangan parsial, bila tidak ingin frontal menyalahinya. Bukankah kaidah fiqhyiah telah menjelaskan, “Al Muhafadzatu ‘alal qodiimis Sholih wa Akhdzu bil Jadid al-Ashlah”. Menjaga atau merawat yang lama yang baik sembari mencari atau mengambil yang baru yang lebih baik lagi.

Teruntuk pertanyaan ketiga yang hangatnya awet, seperti tagline iklan balsem. Tentang vis a vis antara agama dan budaya. Sebuah diskursus yang pembahasannya sepanjang zaman; barangkali demikian adanya. Kerapkali keserempet yang katanya Bidngah dan konco-konco sejawatnya.

Pihak satu mengatur argumentasi seraya mencomot dalil sesuka hati, guna membenarkan diri. Seakan Kalam Tuhan adalah pedang sekaligus tameng untuk memerangi hamba Tuhan yang lain. Pada pihak sebelah, kadang membentengi diri sekaligus membakar lumbung sendiri. Memperdebatkan budaya dengan cara tidak berbudaya. Budaya mendebat dan menyalahkan, sebegitunyakah berbudaya itu ferguso ?.

Saya sendiri hanya ingin mengutip salah satu ungkapan dari Kyai yang juga Budayawan; “Jika tradisi dan budaya dirusak, maka agama akan menjadi kering, keras, dan kehilangan nilai estetik serta tidak manusiawi. Jika sudah demikian, agama akan semakin jauh dari realitas sosial. Bila demikian, agama hanya bisa diamalkan oleh malaikat”. (Gus Sastrouw Al-Ngatawi).


KEMBALI KE LAPTOP. Bahwa, lewat lagu daerah yang berasal dari tanah bugis ini, dapat menghantarkan kita kembali untuk menyadari urgensi penanaman nilai edukasi sedini mungkin. Bukankah bila telah beranjak dewasa, seseorang akan diperhadapkan pada hal-hal besar juga. Sama halnya pohon, yang bila ia kian mekar dan besar, niscaya terpaan angin juga kuat. Berbanding lurus. Bila akar kurang kokoh, tiupan angin sekecil apapun akan berpengaruh. Apalagi besar. Olehnya, sedini mungkin seorang manusia yang ingin berlaku manusiawi, harus dimanusiakan lewat pendidikan. “Insaniatul insan”, memanusiakan manusia; demikian salah satu tujuan pendidikan itu sendiri.

Lebih lanjut, bila kita hendak cermati lirik lagu diatas, sedikit bisa temukan indikasi akan gambaran sebuah sesal. Penyesalan seseorang yang barangkali kurang atau bahkan tidak pernah melalui proses pembelajaran saat masa kecilnya. Tatkala telah tumbuh keinginan untuk belajar, pembelajaran pun agak menemui kesukaran dalam upaya memahami pelajaran itu sendiri. Karena pikiran telah bercabang dan rasa malas juga telah mendera.

Demikian halnya dengan budaya kearifan lokal kita. Sedini mungkin juga perlu untuk kita rawat bersama. Bukankah dikatakan bahwa, “bangsa yang besar adalah bangsa yang mau menghargai budayanya sendiri”. Argumentasi tersebut tak lantas bisa kita interpretasikan bahwa, adanya upaya membangun demarkasi antar sesama. Bukankah Tuhan lewat firman-Nya menyatakan bahwa, memang kita tercipta berbeda untuk saling mengenal dan baku sayang-sayange…

Lagu ini juga menyampaikan sebuah pappaseng (pesan) tersirat tentang pendidikan sepanjang hayat manusia. Memang dalam lirik nya menyatakan akan sulitnya pendidikan bila terlambat dimulai, namun disitu kita bisa pahami bahwa, tuntutlah ilmu walau itu kita rumit akannya. Sudah barang tentu, kita masih ingat bersama salah satu hadits Rasulullah SAW yang mengatakan bahwa, “tuntutlah ilmu mulai dari ayunan sampai ke liang lahat”.

Ngapunteun sadayana, hyang ingin mendengarkan lagu ini bisa klik tautan berikut, monggo

https://youtu.be/gJXKZx4MDFI

Repost from :

https://pmiiiainpalopo.blogspot.com/2019/02/sebua-lagu-daerah-untuk-pendidikan-dan.html

Palopo, 22 Feb 19

Idrisefendy

Pepuisi Kita…SAHABAT

Pernah.., kita pernah bergumul dalam sesaknya jumpa
Jumpa yang tersipu malu mengenal usia
Mengejawantahkan kita pada ruang cengkrama
Mempermak akan segala asa dan rasa.

Pernah…, kita pernah Berdialog sekelumit problematika
Kadang berseringai dalam sekejap mata
Pun dengan meraba tabir sang curiga
Terharap persekusi itu tiada menyapa.

Mesin waktu dengan lantang terus bergema
Menyerempet partikel temu yang kian tercerca
Membabat rata seloroh kala jumpa
Menyuburkan sang ego tuk kian merdeka.

Adakah tolak tuk pisah yang menggoda ?
Atau kerangkeng kokoh tuk ego muda belia ?
Segala tanyapun menampakkan rupa
Memperolok kita yang kini bermuram durja.

Sahabat, segala sayat luka telah mendera
Berseliweran manginvasi segala percaya
Memenjarakan kita dalam senjakala
Namun, aku yakin asa tetap bermetamorfosa.

Maka hunuskan pedang bijak dengan seksama
Memporak porandakan ego yang tlah bertahta
Bertikai dengan diri yang bukan diri kita
Serta meretas segala bisu yang mengudara.

Sahabat, naif tuk menghendaki abadi nya jumpa
Sebab jalan ninja kita boleh jadi berbeda
Namun kita tahu kita tetap sesemesta
Maka mari menjadi diri dan menuju sang pencipta.

(16-02-18)
idhe

Sumber : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=969387919894871&substory_index=0&id=100004710157405

The World Is Flat…?

5 april 2005, Thomas L. Friedman melukiskan “penjajahan” kontemporer dalam literatur tersebut. Sudah barang tentu, hal ini bukan lagi hal yang tabu untuk menjadi suatu public discourse. Seyogyanya, akan terkonstruk suatu kesadaran kolektif terkait kapitalisme global gelombang ke III ini.

Menurut kacamata Friedman, para aktor dalam percaturan Geo-Eko-Pol ini, memiliki “kesempatan” yang sama dalam “berikhtiar” untuk apapun “nawaitu” mereka. Berangkat dari hal tersebut, tentu ini akan menjadi tunggangan empuk bagi para aktor kapitalis, sosialis, dan segala tetek bengek yang bertalian dengan hal tersebut.

Mengingat fenomena masa kini, bumi ibarat kertas yang dapat dilipat untuk komsumsi informasi dimanapun dan kapanpun melalui gadget. Nah, barangkali inilah yang dialegorikan oleh Friedman sebagai “the flat” yang sudah barang tentu akan melegitimasi “mega proyek” ini.

Membaca fenomena kontemporer, tentu lebih syahdu sekiranya kita mem”presentis”kan sejarah kebangsaan kita dalam “telikungan kapitalisme global dalam sejarah bangsa indonesia”, sebuah buku karangan Hasyim Wahid dkk, yang membahas hal tadi dengan cukup gamblang. Intinya, pertalian fenomena sejarah indonesia dengan fenomena masa kini, ibarat dua sisi uang koin.

Bahkan dalam sambutan buku tersebut dikatakan bahwa, “Setiap upaya diagnosa dan terapi atas persoalan yang terjadi di Indonesia tanpa melihat keterkaitannya dengan konstelasi global, niscaya akan menemui kegagalan”. Betapa naif sekiranya kita memandang problematika kebangsaan kita secara parsial.

Indonesia, negeri yang “multi” dihampir seluruh aspek. Sudah barang tentu tak bisa lagi dinafikan sebagai “target empuk” dari apa yang telah saya katakan sebelumnya.

Samuel P. Huntington dalam suatu tesisnya yang bertemakan “Benturan Peradaban” meramal bahwa, problematika kontemporer serta kedepannya, itu terjadi bukan lagi dalam ranah ke”Nasionalisme”an yang satu dengan lainnya. Akan tetapi, dimotori oleh beberapa konspirasi yang bertalian dengan peradaban. Sebut saja China, Barat, Muslim dll.

Suatu fenomena problematis, yang mana mereka akan mengalami per(di)gesekan yang sudah bisa dipastikan akan merugikan mereka sebagai lakon. Mirisnya, ada beberapa pihak yang diuntungkan atau lebih tepatnya, mengambil keuntungan dengan adanya hal tersebut. Namun yang paling miris, ialah bahkan antar elemen satu negara akan mengalami benturan tersebut.

Proxy war, demikian istilah yang acapkali digunakan untuk fenomena terjadinya gesekan tadi. Suatu kesemrawutan, bahkan pertumpahan darah yang terjadi pada suatu wilayah atau negara. Akan tetapi, para lakon yang bergesekan tadi hanyalah korban dari tangan-tangan tak terlihat.

Bung Karno, salah seorang founding fathers republik Indonesia pernah mengatakan bahwa, “Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah. Tapi perjuangan kalian akan lebih berat, karena melawan saudara sendiri”. Olehnya, menjadi tanggung jawab bersama untuk merawat bangsa kita agar tak dirongrong oleh hal yang sebagaimana telah kita bahas.

Selaku warga Nahdliyin sekaligus warga pergerakan, dan pastinya selaku “belati” pancasila, maka marilah kita buktikan pada dunia bahwa kesaktian Pancasila masih eksis hari ini bahkan sampai tanah tak bisa menyapa air lagi…

#PanjangUmurPergerakan

IDRISEFENDY ~ Palopo, 21 FEBRUARI 2019 (15 APRIL 2017)

(Ket. Reshare and remake dari tulisan sebelumnya)

sumber :

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=810796759087322&id=100004710157405

S-A-H-A-B-A-T

Kita pernah ada sedekat jengkal jemari

Memandangi dinding malam serta rasi bintang di galaksi

Atau sekadar memperbanyak teka teki

Mengenai apapun yang semakin sulit dimengerti

Bersama kepulan asap rokok dan secangkir kopi

Lalu haruskah kita kembali berjalan sendiri-sendiri

Membiarkan semua berjarak lalu kian menepi

Memupuk segala luka dan saling membelakangi

Lalu saling menghilang bak ditelan bumi

Hingga akhirnya semakin sulit tuk saling mengenali

Mari belajar untuk saling menemui

Melihat lalu mencari segala arti

Mengeja segala luka yang seakan membumi

Sahabat, rindu ini ku akui

Sepenggal harap tuk kita telanjangi

Dalam ruang dan waktu yang akan membunuh sepi

disini…

Palopo, 25 desember 2017

(Idrisefendy)

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=940930936073903&substory_index=0&id=100004710157405

Perahuku…

Gulungan ombak munafik merayu lambungmu
Angin malam sombong dan hanya berlalu
Menggiringmu tuk menggilas laut biru
Sial, retak lambungmu kini menghalau laju

Daun layar seakan malu tuk terkembang
Sang kelasi berdiri seraya menantang
Tangan besi kapten yang seakan hilang
Menuai angin kritis nan kepayang

Perahuku, laut terlalu bening tuk jangkar pasrahmu
Dua samudra misteri membentang tuk dicumbu
Perahuku, walau badai egois membentak kompas tuamu
Ia akan memboyongmu ke dermaga rindu

Dan berlayarlah bak kereta menyulam rel usang
Kapten, kelasi dan awak janganlah tumbang
Sehaluan dalam menegasikan sang karang
Tuk menuju cahaya pelabuhan yang gemilang….

Palopo – 24 maret 17

(Idrisefendy)

Sumber gambar :
https://www.google.com/search?q=gambar+perahu&tbm=isch&chips=q:gambar+perahu,online_chips:perahu+layar&client=ms-android-asus-tpin&safe=strict&hl=id&ved=2ahUKEwjY1q3KncrgAhXE4XMBHZRmA5kQ4lZ6BAgBEBw&biw=424&bih=625#imgrc=xTRBUjyCraEURM&imgdii=Vi2GbIVgsYPloM